Tampilkan postingan dengan label Blogging. Tampilkan semua postingan



Durasi Baca: 5-6 Menit

“Kalau aku nggak berkarya apapun, masa aku berani menyebut bahwa diriku ini seorang penulis? Kalau aku nggak nulis lagi nantinya, apakah aku akan tetap dianggap sebagai seorang penulis?”

Siang kemarin, tepatnya di sebuah bis yang sedang melaju menuju kota di mana tempat saya menuntut ilmu, saya merasa ditampar seketika saat membaca kutipan tersebut pada salah satu koleksi buku bacaan saya. Kalimat tersebut merupakan sebuah sindiran keras bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, selama saya vakum tiga tahun ke belakang lamanya dari dunia nge-blog sebagaimana yang telah saya ceritakan di sini, dengan begitu percaya dirinya saya memasang status profile di pelbagai akun media sosial dengan status “A Writerpreneur.” Istilah tersebut ada terlebih karena memang saya suka menulis dan juga suka berwirausaha. Jadilah istilah writerpreneur tersebut. Bahkan mengapa nama blog ini awaldiw(dot)blogpsot(dot)com, huruf ‘w’ terakhir pada awaldiw itu saya filosofikan sebagai writerpreneur sebenarnya. Saya pikir, siapa tahu bisa menjadi sebuah doa juga kan. Semoga iya, Aamiin.
Namun, sekedar ‘suka’ seperti yang saya jelaskan tadi saja rasanya tidak cukup apabila tidak didukung dengan sebuah usaha. Ibarat kalau kita suka sama seseorang, tapi tidak ada usaha untuk mengungkapkan rasa mah yang ada ditikung dengan ketikungan tiga puluh derajat hehehe. Jadi, kembali lagi kepada diri kita masing-masing apakah bersedia menyeimbangkan bakat yang sebenarnya melekat erat pada diri kita tersebut dengan berusaha keras atau tidak. Make your own decision guys!
“Diw, kamu suka nulis ya?” Iya.
“Diw, kamu suka buat puisi ya?” Iya.
“Diw, kenapa gak dilanjut ngeblognya? Sayang banget ih.” Duh, jadi enak ada yang sayang (?)
Mungkin tidak hanya saya, sebagian dari kalian barangkali pernah ditanyakan hal yang serupa. Oleh karena itu, saya berusaha kembali ke dunia per-blog-an dengan membawa beberapa alasan, tujuan dan harapan tentunya. Malu dong ah sama status di berbagai sosmed hehe.
Nah, dalam tulisan kali ini saya akan berbagi mengenai sedikitnya tiga alasan mengapa harus bangga menjadi blogger.
1.               Blogger bukan untuk semua orang.
“Diw, apa perlu orang macam kita-kita ini ngeblog?”
Suatu waktu pernah saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Menjadi seorang blogger memanglah bukan profesi wajib untuk semua orang. Menurut saya, sebenarnya kita pun tidak perlu nge-blog apabila memang tidak memiliki cukup waktu luang, seandainya sama sekali tidak ada nilai tambahnya bagi hidup, frustasi atau tidak nyaman sama sekali ketika menulis, dikejar-kejar tugas sehari-harinya, atau merasa terancam ketika menjalin relasi sosial di ranah dunia maya. Singkatnya, kita tidak perlu repot-repot nge-blog jika enggan untuk berkomunikasi dan berbagi dengan sesama.
Jika kita seorang tukang pahat yang memang selalu bekerja penuh seharian, pesanan selalu mengalir deras, sampai-sampai waktu istirahat pun kurang ya saya rasa tidak perlu nge-blog. Berbeda lagi apabila kita seorang desainer produk dan memerlukan sebuah media yang bisa memamerkan produknya. Mungkin dengan nge-blog bisa menjadi mediatornya. Bisa menghubungkan dengan pelanggan dan menjadi ruang tersendiri untuk berkonsultasi dengan para klien.
Jadi, berbanggalah kita sebagai orang-orang yang terpilih menjadi blogger. Memiliki passion menulis untuk berbagi yang tidak bisa dirasakan manfaatnya oleh sembarang khalayak ramai tentunya.
2.               Blogger bukan profesi biasa.
Pada era modern ini, mungkin nge-blog itu bisa diartikan sebagai salah satu sarana yang bisa dilakukan seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tidak sedikit orang yang mendadak populer dan bisa menghasil income menengah ke atas hanya karena rutin nge-blog. Semua itu tergantung bagaimana kita pintar dalam memanfaatkannya saja. Misalnya, ikut serta dalam berbagai kompetisi blog, melalui job review, juga lewat ajang giveaway yang kerap kali diadakan oleh beberapa para blogger, dan memasang banner iklan. Mungkin dengan berbagai cara tadi bisa lebih menjadikan profesi blogger itu sebuah kebanggan yang luar biasa. Bahkan, barangkali bisa menjadi sarana untuk mewujudkan impian saya menjadi seorang writerpreneur hehehe.
Dengan begitu kita tidak perlu merasa canggung lagi kalau misalkan ditanya oleh calon mertua mengenai apa pekerjaan kita dan berapa penghasilan yang didapat.
“Jadi, nama kamu Awaldi?” (Ini interview seleksi menantu apa seleksi kerja ya?).
“Iya, Om. Iya, Tante” Masih santai.
“Kalau om boleh tau, apa profesi kamu?” Masalah kerjaan, jelas job desk nya si Om (Calon papa).
“Blogger, Om. Bahasa kerennya sih, bloggerpreneur atau writerpreneur” Mulai bangga, sambil angkat alis. Biar terlihat gaul menggoda gimana gitu.
“Memangnya berapa penghasilan kamu per bulan sebagai blogger?” Kalau masalah penghasilan siapa lagi yang nanya kalau bukan tante (Calon mama).
“Hmmm, lumayan sih tante tergantung momen juga, kalau momennya lagi bagus ya tingkat permintaan meningkat dan hasilnya banyak, kalau nggak ya permintaannya biasa-biasa dan hasilnya pun standar aja. Biasanya per bulan aku bisa menghasilkan 10 artikel, 200 komentar, dan 5000 pengunjung. Itu pun belum termasuk pengikut, Tante.” Jawab penuh mantap. Intronya udah macam anak agribisnis, belum?
“.........” Cara memandangnya mulai berubah.
“Kalau dikalkulasikan setahun ya kira-kira bisa sampai 120 artikel, 2000 komentar, dan satu juta lebih pengunjung, Tante.” Percaya diri melanjutkan.
“.........” Semakin beda lirikin matanya.
“.........” Mulai tegang.
*seketika hening*
“Hmmm, okay setelah om dan tante menimbang dari berbagai aspek, riset di beberapa tempat, dan uji kelayakan. Jadinya kamu...”
“Kamu.....?” Degdegan.
“Kamu mau kapan nentuin tanggal buat resepsinya?”
“Ah, seriusan ini, Ma? Eh, Tante maksudku?” Tuhkan yesh!
Loh, ini jadi bahas apa hehehe. Kembali ke laptop. Intinya, seseorang blogger menjadikan nge-blog sebagai profesi yang bisa menghasilkan banyak uang karena buah hasil dari merawat blog, bukan dari blognya. Meminjam perkataan Matt Mullenweg, selaku pendiri layanan hosting gratis Wordpress, “You can make more money because of your blog, not from your blog.” Agree?
3.               Blogger bukan sekedar mengambil, tetapi juga berbagi.
Tidak jarang kita menemukan beberapa orang yang menggerutu seperti ini misalnya, “Ah diw, ngapain nge-blog kalau diisi dengan beraneka ragam tulisan tapi nggak ada bayarannya?”
Dalam hal itu, tentu saya tidak bisa memaksa dan menyalahkan mereka yang enggan membuat sebuah blog ketika tahu tidak ada fee-nya. Karena ya pada dasarnya nge-blog itu merupakan pekerjaan yang tidak dibayar alias gratisan toh.
Pada hakikatnya, nge-blog itu berbicara juga mengenai niat dan minat yang ditambah keinginan untuk berbagi. Pertama, terlebih dahulu kita harus memiliki niat (nge-blog) dan minat dalam belajar, mengembangkan potensi diri, dan berpikiran terbuka. Hei, nilai dari sebuah pekerjaan itu tergantung pada niat awalnya, bukan? Kedua, tambahkan keinginan berbagi dengan orang lain. Menulis di berbagai platform, merekam momen-momen kegiatan seru kita, mengemukakan gagasan lalu mempublikasikannya merupakan bentuk sebuah kerelaan, toh? Siapa tahu apa yang kita tulis itu bisa menginspirasi banyak orang sehingga memiliki nilai manfaat. Tanpa adanya hal tadi, saya rasa simpan saja baik-baik tulisan kita dalam bentuk draf di laptop, sampai bersarang laba-laba kalau perlu hehe.
Menurut saya, kita tak perlu merasa dirugikan dalam masalah nge-blog. Bukankah selama ini kita berseluncur di dunia maya ini tidak bayar?  Jadi, anggap saja nge-blog ini merupakan feedback kita dari apa yang sudah diperoleh dari internet secara cuma –cuma. Cukup adil, bukan?
Itulah tiga alasan mengapa harus bangga menjadi blogger versi saya. Untuk kesimpulannya, mari kita introspeksi diri masing-masing bahwa menjadi seorang blogger ini adalah suatu anugerah tersendiri bagi kita atau menganggapnya sama sekali bukan sebuah anugerah. Terakhir, sebagai pelajaran yang bisa diambil dari kejadian yang saya alami kemarin siang, kalau mau menjadi seorang penulis ya mulailah dengan menulis sesuatu. Sesederhana itu.
Punya opini lain? Silakan berbeda pendapat pada kolom komentar di bawah ini.


Source Image: Voices of Rusia