Tampilkan postingan dengan label Daily Notes. Tampilkan semua postingan


Durasi Baca: 4-5 Menit
“Aw, lulus sarjana nanti mending kerja dulu atau S2 dulu, ya? Apa bisnis aja?”
“Gua mau bisnis tapi bingung, bisnis apa. Lu ada saran gak, Aw?”
“Aku butuh pemasukan tambahan nih. Baiknya, kerja sampingan apa ya?”
“Gimana mau nabung? Buat kebutuhan sehari-hari saja pas-pasan, Bro!”
“Kak, gimana sih caranya nabung saham?”
Gimana? Tentu teman-teman tidak asing mendengar pertanyaan di atas, bukan? Atau bahkan, seringkali diri sendiri yang malah merasakannya? Hayo, Ngaku! Hehehe. Kiranya, itulah sedikit banyak percakapan yang menjadi trending pada masa-masa ‘quarter life crisis’ di kalangan anak muda seumuran saya ini. Terbayang-bayang seperti apa gambaran masa depan mereka. Terlebih dengan kekhawatiran akan kondisi keuangannya.
Ditambah lagi, hari ini arus informasi begitu deras disebabkan kemajuan industri teknologi yang semakin pesat. Saya tanya, di zaman now ini apa sih yang gak berbau digital? Belanja kebutuhan bisa melalui online shop. Beli tiket perjalanan hanya tinggal booking melalui aplikasi. Baca berita? Kini sudah semakin banyak media cetak yang menyediakan fasilitas e-paper bagi pelanggannya. Mencari informasi kian lebih mudah dibantu dengan adanya internet sekarang ini, termasuk informasi seputar literasi keuangan.
Nah, lebih kurang setahun #MoneySmartMenginspirasi, memberikan warna dan alternatif baru dalam halnya memberikan pencerdasan kepada generasi muda khususnya milenial dalam mengelola keuangan dengan bijak. Berdiri sebagai bisnis media online di Indonesia, Money Smart diharapakan dapat menjadi pedoman maupun pencerahan bagi anak muda dalam menyikapi literasi keuangan.
Cara mengakses Money Smart mudah sekali! Kita hanya tinggal mengaksesnya di alamat https://www.moneysmart.id/ pada android atau gadget kesayangan kita. Gak boros kuota, kok! Setelah itu, terdapat ragam pilihan menu yang bisa kita eksplorasi. Gak usah khawatir, semua tulisannya dijamin menginspirasi. Favorit saya sendiri sejauh ini adalah menu Earn Money dan Smart Money. Selain banyak rekomendasi untuk mendapatkan active income, dibagikan pula bagaimana agar kita menghasilkan passive income melalui investasi seperti yang belakangan sedang saya coba lakukan.
Pertengahan Juli 2018 lalu, saya membulatkan tekad untuk membuat rekening investasi saham syariah di salah satu sekuritas kenamaan Jakarta. Bukan tanpa tujuan, investasi di sini dilakukan sebagai bentuk upaya mempersiapkan keuangan masa depan sedini mungkin. Namun, jika investasi ini tidak disertai dengan pemahaman yang matang, saham syariah pun bisa membuatmu rugi. Oleh karena itu, keinginan belajar saya ditambah lagi dengan membaca atau memperhatikan berita terkait perusahaan tercatat di bursa, mengikuti forum-forum diskusi baik secara offline maupun online, hingga membaca platform Money Smart ini.
Misalnya saja salah satu tulisan yang berjudul ‘Dijamin Paham, Ini 6 Cara Bermain Saham yang Pas Buat Investor Pemula.’ Lebih jelasnya, teman-teman bisa temukan di menu Smart Money, lalu pilih sub-menu Investasi. Sedikit banyak, tulisan ini memberikan tips sederhana namun aplikatif untuk diterapkan. Di antaranya sebagai berikut, (1) Pilih sekuritas dengan biaya transaksi kecil, (2) Jangan pelit tapi jangan kebablasan juga, (3) Pilih saham di indeks LQ45 atau IDX30, (4) Beli saham consumer goods, (5) Kalau rugi, lakukan averaging down, dan (6) Tips investasi saham jangka pendek dan jangka panjang.
Berkat memiliki panduan asyik berinvestasi dan bisa diakses dalam genggaman, secara tidak langsung saya jadi semakin termotivasi untuk menerapkan sedikit banyak ilmu soal literasi keuangan. Misal, saya jadi lebih memilih menunda pembelian sebuah barang jika itu hanya untuk memenuhi kepuasan konsumtif saja, saya jadi ingat untuk investasi buat masa depan, saya jadi ingat agar uang harus dikelola sebaik mungkin, dan seterusnya. Tapi, rasanya masih kurang kalau hanya baca-baca di website Money Smart doang deh. Biar gak ketinggalan info lainnya, bisa juga teman-teman like fanpage Facebook-nya, follow akun Twitter-nya, dan follow juga akun Instagram dari Money Smart. Saya sampai bolak-balik stalkingnya, siapa suruh kontennya edukatif dan inspiratif! Banyak banget tips yang bermanfaat dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami tentunya.
So, saya setuju banget jika disebutkan bahwa Money Smart merupakan media online inspiratif guna mendukung hari esok yang lebih sejahtera. Melalui media online ini, kita berkesempatan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari mereka-mereka yang bergelut di dunia keuangan. Bahkan tidak sedikit penulisnya merupakan pakar keuangan. Teman-teman yang punya gadget, jangan sampai ketinggalan untuk baca dan ikuti terus informasi dari Money Smart. Memang benar-benar, smart! Waaah, senang sekali teknologi digital semakin memudahkan kita dalam berbagai hal. Yuk, dimanfaatkan sebaik mungkin, ya! Gak bakal nyesel, deh! :)
-o-0-o-
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog #MoneySmartMenginspirasi yang diselenggarakan oleh Money Smart”


Durasi Baca: 5-7 Menit 
 “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.” HR. Bukhari Muslim.
   Sepenggal hadits tersebut selalu menghidupkan hati dan menjadi peringatan bagi saya bahwa derajat kemuliaan seseorang bisa dilihat dari sejauh mana dirinya bermanfaat bagi manusia lainnya. Pada hakikatnya, hidup adalah tentang memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Semakin banyak memberi, semakin banyak kita menerima. Giving is rich and making rich. The more you give, the much more you receive. Sungguh beruntung, mereka yang dikaruniakan oleh Allah SWT dengan kelebihan, dan kelebihannya itu dimanfaatkan dengan baik untuk menolong orang sebanyak-banyaknya.
Ya, tolong menolong sudah menjadi bagian yang lekat dengan ajaran Islam, karena memang kodrat manusia sebagai makhluk sosial yang tak bisa lepas dari bantuan orang lainnya. Menolong orang lain adalah berbicara tentang investasi untuk menolong diri kita sendiri suatu saat nanti. Bukan, bukan maksud saya untuk mengajarkan berharap pamrih atas kebaikan yang telah kita lakukan. Namun, sudah menjadi janji-Nya bahwa perbuatan yang kita lakukan baik ataupun buruk, nantinya akan kembali lagi pada diri kita masing-masing.
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu juga untuk dirimu sendiri.” (QS. Al-Isra [17]:7)
Jadi, jangan pernah berpikir kalau sedekah itu rugi lantaran uang kita berkurang. Justru dengan bersedekah, rezeki kita ‘pasti’ akan kembali dalam berbagai bentuk, bahkan bisa jadi lebih banyak. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Tidak akan berkurang rezeki orang yang bersedekah, kecuali bertambah, bertambah, dan terus bertambah.”
 Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan.” (QS. Al-An’am [6]:160) 
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (bersedekah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji, Allah melipatgandakan (ganjaran).” (QS. Al-Baqarah [2]:261)
Memang benar, memberikan akan mengurangi sesuatu yang kita miliki. Sebab, kita terbiasa dengan perhitungan matematika konvensional. Kalau nasihat guru saya, sedekah itu hitungannya pakai matematika sedekah. Bedanya? Jelas beda.
Kalau hitungannya matematika konvensional, ketika punya uang 50 ribu lalu disedekahkan 25 ribu, maka uang kita menyisakan 25 ribu. Lain halnya kalau pakai hitungan matematika sedekah, 25 ribu yang kita sedekahkan tadi setidaknya berlipat ganda (minimal) 10 kali lipat menjadi 250 ribu. Jadi, uang kita sekarang bukan lagi 25 ribu lagi, melainkan 25 ribu + 250 ribu = 275 ribu! Ini baru minimal, maksimalnya? Tak terbatas, Bro!
Namun, jangan kecewa juga jikalau sudah sedekah tapi tak kunjung terasa hasilnya. Ada hal lain yang perlu disikapi dengan lebih bijak, bahwasanya balasan sedekah tidak melulu materi atau uang lagi. Bisa jadi Allah SWT menggantinya dengan nikmat kesehatan, kelimpahan prestasi dan karir, keberkahan umur, kebahagiaan keluarga, hingga kelapangan hati yang semua itu tidak bisa dibeli oleh uang.
Kebaikan itu Menular
“Sekecil apapun sebuah kontribusi, kebaikan tetaplah kebaikan.”
Sekiranya, semangat ini yang coba kami (saya dan rekan-rekan seperjuangan) bawa ketika masa kampanye pemilihan Ketua dan Wakil Ketua BEM, Oktober 2018 silam. Karena sekecil apapun kebaikan itu, kami yakini bisa jadi hal tersebut yang kemudian menuntun orang lain melakukan hal serupa atau bahkan lebih besar.
Dalam setiap proses kampanye, saya dengan senang hati selalu menyampaikan, “Jika ada kebaikan yang kami sampaikan, tolong jangan sampai kebaikan itu berhenti hanya pada diri teman-teman. Kami yakin, jika memang ada satu kebaikan. Maka kebaikan itulah yang akan menular ke sepuluh kebaikan lainnya, lalu semakin banyak lagi lima puluh, bukan tidak mungkin sampai seratus orang yang merasakan efek kebaikan tersebut.”
Hingga, pada satu waktu seorang adik tingkat yang tengah mencalonkan diri juga sebagai Ketua BEM di tingkat fakultas mengajak berbincang. Kami membuat janji temu di salah satu tempat makan. Bakso pilihan kami saat itu. Lebih kurang dua jam berbincang, membicarakan banyak hal seputar pikir taktis, langkah strategis, hingga utamanya keorganisasian.
Akhirnya, kami memutuskan untuk membayar terlebih dahulu. Namun, ketika saya hendak membayar ternyata sudah lebih dulu dibayarkan oleh adik tingkat saya itu. “Gapapa, Kang. Kata akang kebaikan itu menular, Kan? Nah, paling tularkan aja ke teman dari Solo yang mau akang temuin habis ini.” katanya bulat. Tanpa panjang lebar, saya laksanakan amanah adik tingkat saya itu untuk membayari kawan saya makan.
Malamnya, setelah bertemu adik tingkat serta kawan dari Solo, pergilah saya pada malam keakraban terakhir daripada kepengurusan BEM di fakultas saya, pertanian. Sampai pada sesi yang mempersilakan saya berbicara. Saya ceritakan kepada mereka yang hadir, kisah kebaikan yang saya alami ketika sore harinya. Saya pesankan kepada mereka dengan ajakan yang sama, tularkan kebaikan.
Singkat cerita, berselang lima bulan dari kejadian tersebut, saya diundang menjadi salah satu pembicara di sebuah kegiatan yang mana ketua pelaksananya adalah salah satu anggota saya di BEM dulu. Ketika sesi diskusi tiba, bukan bertanya dia malah bercerita bahwa setelah mentraktir temannya makan es krim, kebaikan itu lantas ditularkan si temannya untuk mentraktir temannya yang lain lagi. Di situ saya merasa terharu. Sungguh terenyuh. Sepintas terdengar sederhana, tapi bagi saya luar biasa dampak daripada kebaikan yang menular itu.
Jadi benar, kebaikan itu menular, maka tularkan. Hingga akhirnya membentuk sebuah rantai kebaikan, lebih jauh lagi menjadi investasi yang berlipatganda nilai kebaikannya. Mari kita sebut itu investasi kebaikan. Mari berinvestasi, selamat menularkan kebaikan!
Kemudahan Berbagi Kebaikan
Pada dewasa ini, mungkin kita sudah tidak asing dengan iklim yang saling berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Terlepas untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang lain. Nah, berikut ini tiga tips mudah yang bisa kita lakukan ketika hendak memulai suatu kebaikan. Apa saja? Check this out!
1.      Tanamkan Niat dan Empati
Hal ini bisa kita mulai dari langkah sederhana, namun berimbas begitu besar. Iya, Niat. Sesederhana niat yang selalu harus diperbaiki tiap harinya. Dalam hal berbagi kebaikan ataupun sedekah, pastikan niat kita juga lurus karena-Nya. Dengan begitu, secara tidak langsung kita sudah turut melatih menanamkan rasa empati kepada orang-orang sekitar yang membutuhkan bantuan kita.
Doc. Dompet Dhuafa
2.      Sedekahkan Sebagian Uang
Sebagaimana yang sudah dituliskan sebelumnya, bahwasanya dengan bersedekah atau berbagi tidak lantas mengurangi apa yang kita miliki melainkan membuatnya malah bertambah. Begitupun harta yang kita miliki. Mengutip apa yang pernah dikatakan Soe Hok Gie, “Kita yang merasakan pendidikan tinggi adalah segelintir orang yang beruntung. Mereka di luar sana yang tak bisa merasakan adalah tanggung jawab kita.” Artinya, apa yang kita miliki saat ini ada hak orang lain juga, yaitu mereka yang kurang mampu.
Di era teknologi yang berkembang semakin pesat ini. Sangat memungkinkan memberikan berbagai kemudahan dalam berbagi kebaikan. Termasuk kemudahan dalam bersedekah yang tak mengharuskan kita beranjak ke luar rumah. Kita mengenalnya dengan donasi online.
Doc. Dompet Dhuafa
Kabar baiknya, kemudahan donasi tersebut difasilitasi oleh Dompet Dhuafa. Sebuah lembaga filantropi islam yang sumber dananya dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) serta dana halal lainnya. Kabar baiknya lagi, saya merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menjadi Penerima Manfaat dari program Dompet Dhuafa, yaitu Bakti Nusa atau Beasiswa Aktivis Nusantara di bawah naungan Dompet Dhuafa Pendidikan. Alhamdulillah, begitu banyak manfaat yang bisa saya rasakan dan dapatkan dari program tersebut. Semoga Allah merahmati orang-orang yang berjuang keras di dalamnya. Aamiin.
Sejak kali pertama didirikan, Dompet Dhuafa berkomitmen untuk mengentaskan kemiskinan dan upaya membangun bangsa Indonesia untuk lebih maju dengan berkhidmat pada kegiatan filantropis (kemanusiaan) dalam memberdayakan kaum dhuafa.
Bagi teman-teman yang ingin ikut serta dalam misi kebaikan tersebut, Dompet Dhuafa telah menyediakan berbagai pilihan layanan untuk menyalurkan donasi melalui: (1) Kanal Donasi Online (2) Transfer Bank (3) Counter (4) Care Visit (Meninjau Langsung Lokasi Program) (5) Tanya Jawab Zakat (6) Edukasi Zakat, dan (7) Laporan Donasi.

Dok. Pribadi
3.      Berbagi Ilmu atau Saran
Terakhir, bukan berarti paling sedikit nilai kebaikannya. Bisa jadi ini akan menjadi sebuah ladang amal yang luar biasa jika konsisten dilakukan. Berbagi tidak melulu soal harta, sepakat? Saya sepakat.
Kita sangat bisa membagikan sedikit ilmu yang kita miliki kepada orang lain. Jangan pelit-pelit untuk berbagi ilmu dengan orang lain. Selama ilmu tersebut diaplikasikan secara kontinu, maka pahala kebaikannya akan mengalir terus ke orang yang telah membagikan ilmunya.
Sharing is Caring. Beberapa dokumentasi ketika diminta untuk berbagi ilmu.
Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain? Harapannya, kita tidak pernah puas untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Semoga kita diberikan kelapangan hati untuk selalu siap menolong dan memberikan manfaat kepada orang lain. Terlepas dari lingkup yang kecil dari keluarga, hingga lingkup yang lebih besar yaitu agama, bangsa, dan negara.
Gimana? Berbagi itu mudah, bukan?
-o-0-o-
“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”


Durasi Baca: 5 Menit
Kiranya, sekitar satu tahun yang lalu, saya berdiri pada ruang yang sama. Time flies. Tidak seorang diri, saya ditemani 11 orang lainnya yang --konon katanya ketika berhasil masuk tahap itu-- dilabeli dengan sebutan ‘aktivis’. Masih ingat betul, kali pertama sekaligus urutan pertama dari peserta yang memasuki ruang itu adalah saya. Begitu masuk, penonton bersorak sorai menyemangati. Hawa dingin, gugup, senang, penuh dengan menduga-duga, bingung, semuanya bercampur aduk menemani saya kala itu.

Selepas Uji Publik Calon PM Bakti Nusa 8 Bandung

Bagaimana tidak? Saya dihadapkan dengan kurang lebih 100 tatap mata penonton dari beberapa universitas ternama. Belum lagi mereka yang menyaksikan lewat siaran langsung di media sosial. Yang saya pahami, tujuan mereka hadir menonton tidak lepas dari dua hal, mendukung temannya di atas panggung dan menantikan gagasan menarik dari para peserta seleksi Beasiswa Aktivis Nusantara 8 Bandung.
Hawa yang tadinya dingin, terasa berubah seketika. Satu dua peserta mulai panas dingin, ada juga yang mulai berkeringat. Sibuk menyimak, kemudian mencatat. Sesekali mungkin melirik ke pendukungnya. Dan, marilah sebut saja panggung itu panggung uji publik yang fenomenal. Pertanyaan yang dilempar selalu tidak terduga. Pertanyaan yang dilontarkan pasti akan diingat.

Ketika Orasi Publik

Misalnya saja, satu waktu terlempar pertanyaan, “Kalian yang di depan ini kan aktivis, para pemimpin, berarti seharusnya dekat dengan rakyat atau masyarakat juga. Pertanyaannya sederhana, siapa nama Ketua RT dan RW di rumah/kos tempat kalian tinggal?” Jleb. Itu termasuk salah satu pertanyaan yang tidak bisa saya jawab –hamdalah sekarang sudah bisa.
Tidak hanya itu, ada lagi “Siapa yang pagi tadi Shubuh kesiangan?”, atau keluar juga pertanyaan seperti ini, “Siapa yang ingin menikah di tahun 2020? Keluarga seperti apa yang ingin dibangun nantinya?”. Terakhir, “Jika harus memilih, siapa menurut kalian yang seharusnya tidak lolos tahap ini?”. Fix, pertanyaan terakhir paling mengundang rasa haru. Ya, ini tahun lalu.
Lima hari lalu, lagi-lagi panggung fenomenal ruangan itu memberikan banyak pelajaran. Atmosfer positifnya masih ada, bahkan bertambah banyak. Inspirasi hadir. Tawa mewarnai (Karena jawaban-jawaban jenaka dari peserta dan pertanyaan “Kalau harus saling memilih, siapa yang akan kalian pilih untuk dijadikan pasangan hidup?”). Serta, haru menjadi pelengkap (Kalau ini karena pertanyaan, “Siapa sosok inspirasi kalian dan apa yang ingin kalian ucapkan seandainya ia ada di depan kalian?”).

Selapas Uji Publik Calon PM Bakti Nusa 9 Bandung

Dari beberapa pertanyaan yang terlontar, sudah menjadi barang pasti ada pesan yang ingin disampaikan secara tidak langsung oleh penanya kepada peserta. Tidak lain untuk menjadikan kita lebih menguasai soal manajemen pengendalian diri, lebih peka terhadap lingkungan sekitar tempat tinggal, pentingnya perencanaan hidup ke depan, serta peranan apa yang bisa kita lakukan untuk memajukan agama bangsa dan negara.
Saya sendiri turut bersyukur pernah melalui serta pada akhirnya menjadi bagian kecil keluarga Bakti Nusa Bandung. Sebab, menjalani serangkaian prosesnya bukanlah perkara mudah. Bahkan beberapa memutuskan lebih awal untuk tidak melanjutkan pendaftaran sedari awal. Padahal, banyak sekali pembelajaran serta hikmah yang bisa dipetik setelah semua tahapan seleksinya berakhir. Setidaknya, itulah yang saya rasakan.
“Kita tidak pernah benar-benar memilih, tapi oleh-Nya kita dipilihkan jalan.”
Nah, kalau diberi kesempatan untuk bertanya kepada para aktivis mahasiswa tersebut, pertanyaan menarik apa yang akan teman-teman berikan? Boleh banget tulis dikomentar :)

(Logo by: Icon Pond)

Bukanlah syair menggoda yang apik tuk dikaryakan.
Bukanlah sebatas kata yang romantis tuk jadi rayuan. Bukan.
Biarkan kata ini merembah mesra dari pikiran.
Juga palung hati yang berkedalaman.
Pada akhirnya, meresap indah pada yang mendapatkan.

Iklim di Indonesia memasuki musim hujan terhitung semenjak bulan September 2016. Cuaca menjadi sedemikian tidak menentu dalam waktu sekejap. Mulanya panas menyengat, beberapa waktu kemudian hujan mengguyur. Mungkin bukan saya saja yang merasakan, tetapi sahabat pembaca sekalian mungkin juga merasakan yang sama. Ciye perasaan yang sama (?)


2016 memang sudah sebulan berlalu, namun rasanya seperti masih ada bekas yang tertinggal. Entah itu berupa cerita, pengalaman, hingga pelajaran berharga. Ketiganya tentu berbeda, tetapi tiap-tiap mereka memiliki tempat tersendiri sehingga laik dikenang.
Mungkin tak semua orang, tetapi bagi saya pribadi, setidaknya di setiap tahun ketiga hal di atas pasti menyertai hidup kita. Terlepas dari baik atau buruknya, namun saya yakin tahun tersebut tetap memiliki sesuatu hal yang bisa dipelajari suatu hari nanti.
Saya sendiri bingung. Selama Januari kemarin, saya mencoba memikirkan, merenungkan, serta mengilas balik hal apa saja yang berhasil saya dapatkan di tahun 2016 lalu. Mencoba melihat-lihat album foto di ponsel pribadi. Alhasil, banyak sekali peristiwa yang sudah saya lewati selama setahun ke belakang.
Pada tulisan kali ini, saya ingin berbagi tentang hal-hal apa saja yang sudah saya lewati dan saya dapatkan. Saya merangkumnya menjadi 7 peristiwa penting (Bukan, ini bukan acara on the spot kok hahaha). Apa saja? Mari simak ulasan berikut ini.
1.   Diminta Bantuan Menjadi Master of Ceremonies (MC).
Semenjak SMA, saya terinspirasi dengan beberapa motivator dan trainer untuk bisa menjadi seperti mereka. Tidak hanya pandai berkata-kata, tapi juga bisa menebar inspirasi dan kebermanfaatan. Hebat sekali, bukan?
Akhirnya, di dunia perkuliahan saya mencoba mencari jalan untuk bisa seperti mereka. Datanglah sebuah tawaran untuk menjadi MC. Tanpa berpikir panjang, saya terima. Kesempatan bagus untuk berlatih speak up di depan orang banyak. Ya, meski pada hakikatnya berbeda dengan motivator dan trainer. Saya ambil nilai positifnya, di sana sarana saya belajar.
Alhamdulillah, kiranya selama 2016 lalu saya dipercaya menjadi MC kurang lebih dalam 8 acara yang berbeda. Harapannya, ke depannya saya bisa terus belajar untuk mengembangkan kemampuan public speaking saya.

2.   Menulis dan Berkiprah di Berbagai Perlombaan.
Saya tidak tahu pasti apakah menulis passion saya atau bukan. Terlepas dari hal itu, saya merasa nyaman ketika menulis. Karena lewat menulis, hal yang tak bisa terungkapkan begitu saja, bisa dengan begitu mudahnya mengalir dalam bentuk narasi.
Begitu pun dalam hal berbicara. Jika menulis adalah mereka yang pandai menuliskan kata-kata, maka berbicara adalah mereka yang pandai berkata-kata. Keduanya, dipersatukan dalam konteks yang bernama ‘seni’.
Pada tahun 2016 pula, syukur sekali bisa mendapatkan 3 apresiasi dari 3 lomba yang berbeda. Menjadi Juara 1 Cipta Puisi FH Unpad yang bertemakan kepahlawanan, masuk 20 besar puisi terbaik yang diadakan oleh Ikatan BEM Pertanian Indonesia (IBEMPI), dan Juara 2 Lomba Pidato se-Unpad Raya hehehe.

3.   Bertemu dengan Penulis Hebat.
Saat ini, semakin banyak penulis muda bertalenta muncul ke permukaan. Bisa dibilang, kini menulis buku tidak hanya untuk orang tua saja, namun para generasi muda pun mampu.
Pidi Baiq dan Adhitya Mulya. Dua penulis hebat dengan karakteristiknya masing-masing. Bertemu dengan Pidi Baiq atau yang kerap dipanggil Ayah, pada bulan Juni 2016 di Bedah Buku Dilan. Baru 5 bulan setelah itu dipertemukan dengan penulis Novel Sabtu Bersama Bapak, Adhitya Mulya.

4.   Berkarya di Pers Mahasiswa.
Sudah setahun lebih saya bergabung dengan Persma Genera Fakultas Pertanian Unpad. Satu hal yang saya rasakan adalah kemampuan menulis saya menjadi lebih terasah dibanding sebelumnya.
Pada November 2016, saya menjadi delegasi pers ini untuk mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) di Universitas Sriwijaya Indralaya. Di sana saya bertemu orang-orang hebat dan calon penulis hebat. Banyak sekali ilmu yang bisa dipelajari untuk kemudian dimodifikasi.
Terakhir, akhir-akhir ini saya diamanahkan sebagai Kepala Website Persma tersebut. Alasannya, karena saya punya blog pribadi jadi sudah punya gambaran sedikit mengenai website. Padahal mah, blog pribadi saja masih acak-acakan seperti ini hahaha.

5.   Mengabdi Bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Pertanian.
Sama halnya dengan persma, di badan eksekutif ini saya sudah menjadi bagian mereka selama satu tahun. Sekarang, sudah memasuki kepengurusan yang baru.
Setahun kemarin, saya mendapat banyak pelajaran yang amat berharga tentang manajemen waktu, open minded, hakikat profesionalitas dan kekeluargaan, dan pengambilan keputusan. Tak hanya itu, saya pun mendapatkan prestasi dan relasi di sana.
So, buat sahabat pembaca sekalian jangan ragu untuk berkontribusi dalam suatu organisasi karena pasti ada pelajaran yang bisa dipetik dari sana.

6.   Hakikat Kuliah di Agribisnis.
Berakhirnya tahun 2016 sekaligus mengakhiri suka duka kuliah di semester 3 agribisnis. Semester ini memiliki kenangan tersendiri karena kami diajak untuk menanam langsung sayuran (pak choi, nai bai, dan mentimun), merawatnya, proses pasca panen, hingga akhirnya produk tersebut bisa dijual kepada masyarakat sekitar. Alhamdulillah, hasilnya lumayan buat tambah uang jajan bulanan anak kosan hehehe.

7.   Gen Sindo dan Peluang Lainnya.
Poin terakhir ini mungkin yang paling berkesan di antara yang lain. Saya diberi kesempatan bergabung dengan komunitas penulis muda Koran Sindo. Di mana tulisannya akan dimuat setiap hari Sabtu di Koran Sindo. Saya sendiri sudah berhasil dimuat 5 tulisan. Semoga masih punya banyak kesempatan ya hehe.
Tujuan saya sederhana, harapannya dengan menulis melalui media nasional ini bisa dibaca oleh banyak orang dan pembaca bisa memetik manfaat yang ada.
Selain itu, banyak juga yang saya dapat dengan bergabung Gen Sindo. Saya mendapatkan teman baru, ilmu baru, dan terpenting adalah membuka peluang-peluang baru untuk bisa belajar di luar kelas.
Kalau sahabat pembaca penasaran, tulisan-tulisannya bisa dibaca di google drive saya, baca di sini.

Demikian kilas balik tahun 2016 saya. Kalau di tahun lalu saya menulis tahun 2016 harus lebih baik daripada tahun 2015 (Bisa dibaca di sini). Maka saya menilai, banyak pencapaian yang saya raih di tahun 2016. Tetapi saya sadar, saya tidak boleh cepat puas dengan apa yang telah didapat.
Kalau 2015 lalu adalah tahun perjuangan, maka tahun 2016 kemarin saya artikan sebagai tahun kebermanfaatan. Di mana saya digiring untuk bisa lebih berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih bermanfaat lagi bagi orang lain. Semoga tahun 2017 ini semakin banyak memberi arti bagi hidup kita semua. Aamiin.
  
Kiri Atas-Kanan Bawah: Menjadi MC di Acara Career Development, BEM Fakultas Pertanian,
Bersama Adhitya Mulya, Delegasi Genera, Bergabung Gen Sindo, Menjadi MC di Acara Scientific Fair,
Bersama Sayuran Pra-Panen, Bersama Ayah Pidi Baiq, dan Juara 2 Pidato Indonesia.


Durasi Baca: 5-5 Menit

Tak terasa, Bulan Ramadan yang berlangsung selama tiga puluh hari ini berlalu begitu cepat. Begitu terasa cepat karena terlalu banyak amalan-amalan yang seharusnya bisa maksimal dilakukan dengan baik, namun apadaya jika masih banyak perbuatan khilaf yang menjadi noda diri. Oleh karena itu, mari fitrahkan diri kita di hari yang fitri ini.
Setiap tahunnya, ketika Idul Fitri tiba, tradisi yang sudah kian melekat di banyak negara adalah saling bersilaturahim dan saling bermaafan. Salah satu negara yang menjadikan keduanya tradisi adalah bangsa kita sendiri, Indonesia. Ya, meskipun sebenarnya saling bersilaturahim dan saling bermaafan ini tak melulu berlangsung ketika lebaran saja, tetapi paling tidak kedua perbuatan baik ini kita lakukan rutin setiap tahunnya.
Nah, berkaitan dengan saling memaafkan ini, saya jadi teringat akan sebuah kisah yang mungkin bisa dijadikan bahan perenungan buat kita semua –termasuk saya pribadi.

Buah Apel dan Rasa Benci
Alkisah, suatu hari di dalam kelas terdapat seorang ibu guru SMP yang sedang mengadakan permainan bagi murid-muridnya. Ibu guru tersebut meminta agar esok hari para muridnya membawa sebuah kantong plastik transparan yang berisikan buah apel. Jumlah berapa banyak buah apel yang harus mereka bawa itu harus disesuaikan dengan jumlah orang yang dibenci dalam hidupnya. Misal, kalau si A merasa benci dengan 1 orang, berarti ia harus membawa 1 apel dalam kantongnya. Sedangkan si B merasa benci dengan 2 orang, maka ia harus membawa 2 apel dalam kantongnya. Begitulah peraturannya dan berlaku untuk kelipatan seterusnya. Dalam kata lain, murid-murid ini dibebaskan untuk membawa seberapa banyak apel di dalam kantongnya.
Keesokan harinya, para murid dengan riang gembira membawa kantong plastik transparan tersebut yang bersama di dalamnya beberapa buah apel. Cukup bervariasi jumlah apel yang mereka bawa. Ada yang hanya membawa 1, ada yang membawa 3, ada pula yang membawa 7, bahkan ada yang membawa 11 apel. Luar biasa! Dalam benak mereka saat itu, apel-apel tersebut akan mereka makan selayaknya mereka memakan dan mengoyak orang yang mereka benci. Tetapi realita tak sejalan dengan ekspektasi mereka. Ternyata, apel-apel tersebut harus mereka bawa kemana pun mereka pergi selama sepekan lamanya. Bahkan harus mereka bawa ketika hendak ke toilet sekalipun.
Hari demi hari silih berganti, apel-apel yang semula segar ketika kali pertama mereka bawa, sekarang sudah mulai membusuk dan mengeluarkan bau yang tak sedap tentunya. Dalam perkara ini, murid yang membawa hanya 1 atau 3 apel akan lebih beruntung daripada mereka yang membawa 7 apel. Satu hal, jangan tanya apa yang akan terjadi pada murid yang membawa 11 apel, Mungkin dia lebih dari sekadar lelah hahaha.
Tepat di hari ke-7, permainan usai. Tentu ada kelegaan tersendiri bagi para murid.
“Jadi, bagaimana rasanya membawa apel busuk selama kurang lebih satu minggu?” tanya ibu guru kepada murid-muridnya.
Satu jawaban dari mereka, tidak nyaman sekali tentunya.
Sang ibu guru pun tersenyum dan kemudian menjelaskan, “Begitulah kiasannya ketika seberkas rasa benci selalu kita bawa dalam hidup kita. Semakin dihiraukan dendam itu dan bersinggah di hati kita, semakin tidak nyaman pula diri kita. Bahkan dampaknya juga bukan pada orang yang kita benci, melainkan akan berdampak pada diri kita sendiri. Sungguh, sangat tidak nyaman sekali bukan ketika setiap hari kita harus membawa apel busuk bernama kebencian?”

Menurut kalian, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah tersebut? Ya, kisah tersebut mengajak kita untuk sekuat hati membuang jauh rasa benci lantas memaafkan orang-orang yang pernah berbuat salah kepada kita, baik secara sengaja atau pun tidak. Mengapa begitu? Karena dengan kita mengambil sikap untuk tidak mau memaafkannya maka sejatinya hal tersebutlah yang akan membahayakan kita.
Sebuah keberuntungan, apel busuk dalam permainan tersebut hanya dibawa selama satu pekan. Mari kita bayangkan, apa jadinya ketika apel tersebut harus dibawa murid-murid dalam kurun waktu yang lebih lama? Dua pekan atau sebulan, misalnya. Barangkali beberapa mereka ada yang pingsan bahkan bisa jadi masuk rumah sakit. Berlaku pula pada rasa benci, lambat laun ia aka membuat diri kita merasa tidak nyaman. Apakah kita mau terus-menerus membawa rasa benci dalam diri kita, bahkan sampai tutup usia nanti?
Sejatinya, ketika kita memaafkan orang lain sebenarnya kita tidak benar-benar melakukan hal tersebut untuk diri orang lain, melainkan untuk diri kita sendiri. Beberapa dari kita mungkin berpikir bahwa ketika telah memaafkan orang yang telah menyakiti atau berbuat jahat kepada kita, maka kita kalah dari orang tersebut. Padahal, disanalah letak kemenangan hakiki kita atas egoisme yang bersarang di hati kita.
Oleh karena itu, mari saling memaafkan satu sama lain dengan tanpa syarat agar kita tergolong orang-orang yang ikhlas. Sebab, saya yakin bahwa setiap orang itu bisa memohon maaf begitu juga memaafkan.
Yuk, jadikan Idul Fitri ini sebaik-baik momen untuk saling bermaafan satu sama lain!

“Bukanlah syair menggoda yang apik tuk dikaryakan. Bukanlah sebatas kata yang romantis tuk jadi rayuan. Bukan. Biarkan kata ini merembah mesra dari pikiran. Juga palung hati yang berkedalaman. Pada akhirnya, meresap indah pada yang mendapatkan.  Waktu begitu cepat terlewatkan. Akhir bulan nan mulia ini sangatlah rugi jika disiakan. Bolehkahku berandai di penghujung ramadhan? Andai terang rembulan dapat kuhentikan. Maka berhentilah cahayanya memancarkan. Hingga tak akan datang esok hari lebaran. Sebelum kata maaf kau perkenankan. Karena itu sisa harapan. Bak air yang tak selalu tampak jernih mengalir, begitu pula tajam ucapku dalam mengatakan. Bak kapas yang tak selalu putih merona, begitu pula prasangka hatiku dalam terka dugaan. Bak lika liku jalan tertampak, begitu pula tingkahku dalam melakukan. Jika maaf bisa kini kau segerakan, untuk apa menunggu esok kau lantunkan? Selamat hari lebaran. Mohon maaf atas segala kesalahan.”

-Awaldi dan Keluarga-





Durasi Baca: 6-6 Menit
Penulis. Hm, siapa yang enggak bangga dengan sebutan tersebut di zaman sekarang ini? Saat ini, penulis sudah memiliki tempat tersendiri di era yang semakin modern. Bahkan sekarang, semakin banyak orang yang menekuni dunia kepenulisan. Sehingga merupakan suatu hal yang lumrah apabila sekarang penulis tergolong sebagai profesi yang menjanjikan.
Kiranya sekitar pukul 11 malam dua hari yang lalu, saya membagikan kultwit di Twitter dengan berpagarkan #AyoMenulis. Saya mencoba berbagi tips-tips dalam menulis mau pun apa saja yang sekiranya menjadi masalah dalam menulis. Semua itu, saya buat berdasarkan sedikit pengetahuan dan pengalaman saya. Penasaran bagaimana tweet demi tweet-nya? Nah, mari disimak!

1.    Menurut bijak kalian, apakah definisi dari penulis yang baik? #AyoMenulis
2.    Apakah penulis yang buku-bukunya diterbitkan dan laris dibeli massa? #AyoMenulis
3.    Apakah penulis yang artikel, blog, serta notes-nya banyak dilike? Banyak dikomentari? #AyoMenulis
4.    Atau, penulis yang menulis memang karena senang dan tidak terpaksa atau pun terpaksa tetap berusaha menulis? #AyoMenulis
5.    Atau, penulis yang tidak peduli dengan komentar, laku atau tidak, dibaca atau tidak, mau pun bagus jeleknya? #AyoMenulis
6.    Rasanya, seluruh definisi tersebut cukup benar adanya. Namun, dua nomor terakhir kiranya perlu lebih kita renungkan lagi #AyoMenulis
7.    Banyak orang yang memiliki cita-cita tinggi, termasuk di dalamnya menjadi seorang penulis #AyoMenulis
8.    Namun, banyak pula yang menjadikan penulis sebagai cita-cita yang hanya dibiarkan mengawang dan sebatas mimpi di hari esok. #AyoMenulis
9.    Mungkin kita terlupa, penulis yang baik itu ada sangkut pautnya dengan sesuatu yang bernama proses #AyoMenulis
10.  Proses perjalanan panjang yang ditentukan pada langkah pertama kita hari ini #AyoMenulis
11.  Lantas, bagaimana memulai karir menjadi seorang penulis? Apa yang kerap kali dipermasalahkan oleh seorang penulis? #AyoMenulis
12.  Sebenarnya sederhana, kiat berkarir menjadi seorang penulis adalah memulainya dengan menulis! #AyoMenulis
13.  Dan kalau boleh jujur, tidak ada rahasia apa pun dalam menulis. Karena inti dari menulis adalah dengan menulis tentunya! #AyoMenulis
14.  Tuliskan tentang apa pun yang bersarang di pikiran kita. Tulis mulai dari yang gue banget sampai yang bersifat komprehensif #AyoMenulis
15.  Lalu apa yang kerap kali menjadi masalah dalam menulis? Ya, salah satunya ada bagaimana cara menemukan ide #AyoMenulis
16.  Tetapi coba kita tinjau ulang terlebih dahulu, apakah menemukan ide sebuah tulisan memang sesulit seperti yang kita pikir? #AyoMenulis
17.  Tidak! Ide tulisan itu bisa apa saja. Sebuah kebohongan apabila ada yang bilang bahwa dirinya kehabisan ide. Jangan percaya! #AyoMenulis
18.  Hanya saja, penulis yang baik itu selalu memiliki sudut pandang berbeda yang lebih spesial #AyoMenulis
19.  Coba perhatikan dari lingkungan sekitar dulu baru kemudian browsing, cari literatur, dan baca artikel. Temukan inspirasimu! #AyoMenulis
20.  Sejatinya, penulis yang baik itu selalu pandai membaca, mengamati, mencatat, mengumpulkan dan merekonstruksi tulisan #AyoMenulis
21.  Saya sendiri suka membawa sebuah notes kecil untuk menuliskan inspirasi yang terlintas. Pastikan ide kita aman tercatat. #AyoMenulis
22.  Berhubung sekarang zaman semakin canggih, berbagai macam gadget pun bisa dijadikan sarana untuk mencatat ide kita #AyoMenulis
23.  Misal, Scrivener dan Word bisa kita gunakan melalui laptop. Evernote dan Google Keep bisa kita gunakan melalui smartphone #AyoMenulis
24.  Catatlah ide-ide yang terkumpul dalam bentuk per poin atau mind mapping. Baru setelah itu kembangkan menjadi sebuah tulisan #AyoMenulis
25.  Selama menulis, usahakan fokuskan dan jauhkan diri kita dari segala bentuk gangguan seperti berbagai macam sosial media #AyoMenulis
26.  Semakin terganggu, semakin pecah juga konsentrasi kita ketika menulis. Terlebih kalau berpengaruh pada kualitas tulisan. #AyoMenulis
27.  Bagaimana jika tertiba tidak mood menulis? Jika memang begitu akan lebih bijak apabila memilih untuk istirahat dulu sejenak #AyoMenulis
28.  Menurut saya, mood itu berpengaruh pada tulisan dan tulisan pun berpengaruh pada mood. Perhatikan dampaknya pada tulisanmu #AyoMenulis
29.  Untuk membantu tetap fokus dan menjaga stabilitas mood, kita bisa pergunakan "teknik pomodoro" selama proses penulisan #AyoMenulis
30.  Di mana setiap dalam kurun waktu 25 menit berlalu, kita dianjurkan untuk jeda beberapa waktu baru kemudian menulis lagi #AyoMenulis
31.  Bagaimana kalau orang menilai tulisan kita buruk? Ah, novel paling laris pun tetap ada yang tak suka kok. Semua soal selera. #AyoMenulis
32.  Oleh karena itu, minta pendapat teman dekat atau sahabat kita. Saring saran baik mereka. Perbaiki pada tulisan selanjutnya. #AyoMenulis
33.  Menjadi penulis yang baik itu membutuhkan kritik dan saran sebagai modal untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi #AyoMenulis
34.  Berlatih, berlatih, dan berlatih. Maka dengan sendirinya kita akan merasakan perbedaan dari setiap tulisannya #AyoMenulis
35.  Menulis itu tidak hanya dapat mengubah diri sendiri tetapi juga dapat mengubah hidup orang lain. Menulislah yang bermanfaat! #AyoMenulis
36.  Jadi, agar bisa lebih terasa manfaat dari tulisan kita, publikasikanlah! Medianya? Misalnya, Blogspot, Wordpress, dan Tumblr #AyoMenulis
37.  Konsistensi, sangat diperlukan dalam proses publikasi. Hal tersebut berguna untuk membentuk kebiasaan kita dalam menulis #AyoMenulis
38.  Meskipun tidak mudah, tapi tak ada salahnya untuk terus berusaha konsisten. Saya pun masih belajar konsisten hehe. #AyoMenulis
39.  Tentu masih banyak sederet manfaat lain dari menulis yang bisa kita rasakan #AyoMenulis
40.  Menulis adalah cara seseorang mencatat apa yang dialaminya dan menjadikannya sejarah dalam hidupnya
41.  Menulis adalah tentang bagaimana kita bekerja untuk keabadian #AyoMenulis
42.  Dengan menulis, seseorang yang hidup sementara di dunia dapat abadi karena karya-karya yang telah diciptakannya #AyoMenulis
43.  Dengan menulis, seseorang dapat meningkatkan kualitas hidupnya #AyoMenulis
44.  Dengan menulis, saya bisa membuat sebuah kultwit tentang #AyoMenulis :)
45.  Asyik ya jadi penulis? Berbagi manfaat, menghasilkan karya, bahkan bisa dapat duit pula! Yuk temukan manfaat menulis versimu #AyoMenulis
46.  Harapannya, semoga setelah ini semakin banyak penulis yang semangat untuk berbagi pikirannya dan berkontribusi nyata. #AyoMenulis
47.  Sekarang ide berlimpah. Fasilitas mudah. Semua kembali lagi kepada seberapa kuat tekad dalam diri kita untuk menjadi penulis #AyoMenulis
48.  Sekian kultwit #AyoMenulis yang bisa saya bagikan pada kesempatan kali ini. Semoga bermanfaat! #AyoMenulis
49.  Mari kuatkan tekad kita. Mari wujudkan impian menjadi nyata. Mari berkarya! Jadi, #AyoMenulis
50.  Terakhir, di saat twitter sedang ramai pagar #AyoMudik2016 , saya malah ramai sendiri dengan pagar #AyoMenulis hehehe.


Demikianlah rangkuman kultwit tentang #AyoMenulis yang belum lama saya bagikan di akun pribadi Twitter saya. Rangkuman lebih rapinya, bisa juga dibaca di http://chirpstory.com/li/321098 pada chirpstory yang telah saya buat. Harapannya, semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kamu yang tak hanya bertekad kuat menjadi seorang penulis, tetapi juga ingin bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Semoga esok atau lusa akan semakin banyak lagi penulis-penulis terbaik bangsa yang lahir beserta karyanya. Jadi, #AyoMenulis!