Durasi Baca: 5-6 Menit
"Ketika Tuhan Rindu"

Semua terbang dengan alasan
Semua terbang membawa harapan
Pada tanah mereka dilahirkan
Pada tempat yang dijanjikan
Pada peluk yang dinantikan
Namun tuhan lebih merindukan

Semua hendak bersua
Semua hendak berjumpa
Tapi satu arah mereka
Pada kampung kita bermula

Semua masih kelabu
Semua masih pilu
Langit angkasa mengumpat tersendu
Awan beriringan bersama haru
Hujan turun titipkan sedu

Saat ini
Semua menanti
Saat ini
Semua kembali

Jakarta, 4 Januari 2015
Pukul 08.08 WIB

-0-0-0-

Baca #ProsaSelasa pekan lalu: Paramasastra Ekonomi
Filosofi #ProsaSelasa: Ketika Tuhan Rindu:
Alhamdulillah masih dipertemukan lagi dengan hari Selasa pekan ini, Yeay!
#ProsaSelasa kali ini boleh diambil dari arsip lama lagi. Tepatnya pada tanggal 4 Januari 2015 lalu. Mungkin sebagian dari kalian sedikit-sedikit mulai menerka atau menduga dari isi prosa tersebut bisa dikaitkan dengan insiden apa, kapan dan di mana. Filosofi khususnya, prosa ini inspirasinya terlahir dari hilangnya pesawat Air Asia QZ8501 pada 28 Desember 2014 silam. Berita kejadian ini sempat heboh selama beberapa pekan di media massa. Mulai dari proses pencarian bangkai pesawatnya, pencarian black boxnya, pengangkatan puing-puingnya hingga evakuasi para korban maupun crew pesawatnya. Tak satu pun dari mereka yang selamat. Ketika itu saya turut ikut berduka, bahkan sampai sekarang.
Padahal, beraneka ragam alasan dan harap dari mereka ketika mengangkasa. Mungkin ada yang hendak melakukan riset pekerjaan, mengejar kata sepakat dengan klien bisnis, bertemu sanak keluarga juga kolega, atau sekadar mengisi waktu liburan untuk berekreasi saat itu. Namun apadaya alasan dan harap itu semua ketika Tuhan lebih merindukan. Ketika Tuhan lebih menginginkan mereka semua untuk kembali ke kampung di mana mereka semua bermula. Kampung akhirat.
Sedangkan filosofi umum Prosa Ketika Tuhan Rindu ini adalah semua yang bernyawa pasti akan meninggal. Kita semua akan dihadapkan dengan suatu hal yang bernama kematian. Tak peduli kita hendak melakukan pekerjaan apa, tak peduli berapa jumlah angka dibalik kata sepakat dalam sebuah bisnis, tak peduli siapa yang hendak ditemui, dan tak peduli sebahagia apa setelah mereka berlibur ria. Ketika Tuhan berkata terjadilah, maka terjadilah. “Kun fayakun.
Meskipun itu kejadian lama, mungkin masih membekas duka memorinya dalam benak kita semua. Ya, kita semua. Tak hanya keluarga korban yang ditinggalkan. Semoga saja mereka yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Semoga mereka yang dirindu Tuhan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.


-0-0-0-

Menyelipkan cerita sedikit bolehlah ya di sesi #ProsaSelasa kali ini hehe. Saya mau bercerita tentang dibalik terbit terlalu malamnya #ProsaSelasa pekan ini. Jadi begini, dalam hitungan hari saya akan dihadapkan dengan semester dua. Namun, sampai siang hari tadi saya belum membayar kuliah untuk semester dua tersebut, terlebih lagi hari ini terakhir untuk melakukan pembayarannya. Dampaknya, saya belum bisa memilih mata kuliah apa saja yang akan saya ikuti selama semester dua nanti.
Begitu pulangnya mami saya sore tadi, saya lupa untuk menanyakan hal tersebut apakah uang untuk kuliah sudah ditransfer atau belum. Saya malah sibuk memutar otak prosa apa yang akan diterbitkan untuk hari ini. Sibuk menjelajahi arsip-arsip yang ada di laptop saya. Berharap kali saja ada satu atau dua prosa lama saya yang menganggur hehe. Jujur, saya sama sekali belum kepikiran untuk menerbitkan prosa apa hingga sore tadi dikarenakan kehabisan stok prosa.
Barulah selepas maghrib tadi saya beranjak menanyakan uang kuliah kepada mami saya. Ternyata sudah ditransfer dari siang tadi dan buktinya sudah dikirim ke Whatsapp saya. Maklum, selama liburan ini saya menonaktifkan whatsapp karena memang tidak ada paket internetnya. Setelah tahu akan hal itu, saya langsung beranjak ke atm dan langsung melakukan transaksi untuk biaya kuliah. Transfer and done! Saya masih bisa merasakan semester dua :D
Sesampainya di rumah, saya langsung gerak cepat untuk memilih mata kuliah apa saja yang akan menjadi santapan lezat di semester dua nanti. Usut punya usut, semester dua ini kami diberikan jatah sebanyak 21 sks atau sekitar 8 mata kuliah. Namun, dalam proses pemilihannya saya hanya mendapat 7 mata kuliah! Kelas-kelas yang disediakan untuk satu mata kuliah lagi (Statistika dasar) penuh semua! Lalu saya stress mendadak, kalap. Bagaimana bisa hal itu terjadi, padahal satu mata kuliah itu bersifat wajib di semester itu. Oleh karena itu, esok pagi saya memutuskan untuk beranjak pergi meninggalkan ibukota Jakarta dan merantau kembali ke Jatinangor. Mohon doanya ya guys biar saya masih bisa diberikan kesempatan untuk mengenyam satu mata kuliah itu.
Selain itu, masih ada alasan lain kenapa prosa kali ini diambil dari arsip lama. Karena saya sedang dalam sebuah project lomba puisi yang deadline-nya pertengahan Februari ini. So, wish me luck ya!

Semoga #ProsaSelasa pekan depan fresh from the oven. See you! J



Durasi Baca: 4-5 Menit

Assalamualaikum and Hello Fashionista!
Berbicara mengenai fashion masa kini dan dulu, tentu sudah sangat berbeda. Beberapa dari kita mungkin merasakan sendiri di mana letak perbedaannya. Misalnya, sewaktu saya masih duduk di bangku SD dulu tidak terlalu begitu mempermasalahkan hari ini akan memakai sepatu yang mana, celana bahan atau celana jeans, pakai jam tangan atau enggak. Tetapi hari ini, mungkin kita melihat anak kelas 3 SD memakai mini skirt, necklace, wedges, stiletto, dan accessoris pelengkap lainnya. Berbeda sekali. Pantas saja jika ‘fashion’ sekarang ini bisa kita sebut juga sebagai bentuk pengekspresian diri teruntuk berbagai kalangan.
Ohiya, sebelum membahas lebih dalam lagi, adakah yang bisa menerka apa itu ‘fashionalism’? Apakah sebuah niche blogger terbaru? Atau sebuah aliran fashion terbaru? Gimana kalau fashion yang berbumbu nasionalisme? Yes, that is true! When fashion meet nationalism. Hal tersebut merupakan kolaborasi antara fashion dan nasionalisme sehingga kita bisa mengekspresikan penampilan sekaligus memberikan peluang bagi produk-produk lokal agar bisa go international.
Pada tulisan kali ini, saya tidak akan memaparkan beraneka macam rupa dari fashion. Cukup satu dan benda itu adalah sepatu. Sebuah benda yang akan membuat fashion kita semakin sempurna mulai dari atas sampai bawah. Tentu  kita tidak ingin dibilang salah gaul, bukan? Sudah rapi memakai setelan jas, celana bahan, tas kerja di tangan kanan, smartphone di genggam oleh tangan kiri, lengkung jambul rambut sempurna menggoda, eh ternyata tak beralas kaki alias nyeker. Orang kantoran atau korban banjir, Pak? Hahaha. Oleh karena itu, sepatu ada agar kita bisa terlihat tampil lebih hits dan menawan lagi.
Selanjutnya, mari kita kaitkan antara fashionalism dengan sepatu. Berikut ini adalah beberapa macam sepatu yang bisa membuat kita tampil lebih kekinian dari sebelumnya. Lebih tepatnya, sepatu-sepatu keren asli Indonesia dong. Let’s check it out!

SNEAKERS SHOES
Pertama, sneakers. Sepatu kets yang sekarang lebih dikenal sebagai sneakers ini akan membuat kita terlihat semakin kekinian dan percaya diri.  Ibarat jeans, sneakers sendiri mungkin bisa dikatakan sebagai iconic footwear yang sudah menjadi bagian dari lifestyle. Sepatu ini bisa kita pakai untuk bersantai ria dan keluar sejenak dari berbagai kegiatan yang cenderung formal. Namun, sekarang ini memakai sneakers untuk bekerja pun sudah merambah di banyak perkantoran. Di Indonesia sendiri tentu banyak perusahaan yang ikut serta dalam memproduksi sneakers, salah satunya adalah Piero.
 
Salah satu produk Indonesia, Piero

LOAFERS SHOES
Sama halnya dengan sneakers, loafers shoes ini bisa dipakai ketika santai atau kegiatan semi-formal. Misalnya, menghabiskan weekend dengan berekreasi bersama keluarga atau sekadar hangout bersama teman. Cocok juga jika dipadukan dengan jeans atau celana chinos. Coba tengok produk Yongki Komaladi, pasti akan muncul beberapa pilihan dari sepatu model ini.
 
Loafers Shoes dari Yongki Komaladi
Ohiya, untuk yang kedua ini jangan dibaca ‘lafar shoes’ ya. Nanti yang terbayang malah lezatnya kue soes lagi haha. Duh jadi baper, eh laper maksudnya.

DRESS SHOES
Berbeda dengan dua macam sepatu di atas. Sepatu ini cocok apabila dipakai untuk event-event formal atau bisa juga dipakai kerja di kantor. Terlebih lagi sangat pas jika dipadupadankan dengan setelan jas dan celana bahan. Look like a men sekali kakak. Belakangan ini, banyak bermunculan dress shoes warna lain seperti coklat dan putih –meskipun tetap kebanyakan hitam. Untuk dress shoes ini masih dalam produksi yang sama dari Yongki Komaladi.
 
Untuk event formal, pakai sepatu dari Yongki Komaladi ini
Mau office look-nya terkesan lebih stylish? Langsuk aja cari sepatu formal semacam ini. Sepatu yang dibungkus dengan warna bold ini terlihat keren dan maskulin, bukan?

SPORTY SHOES
Tak bisa dipungkiri lagi kalau sekarang olahraga itu sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Pernah CFD-an (Car Free Day) di kota asal? Nah, setidaknya itu satu contoh bukti olahraga telah menjadi bagian dari gaya hidup. Setiap jenis olahraga pasti memiliki sepatu khusus. Kalau saya sendiri karena suka lari dari kenyataan, memilih produk dari League rasanya merupakan pilihan yang tepat.
 
League Neptune La M, Siap membawa kita lari sangat cepat dari kenyataan, misalnya.
Sepatu lari yang akan membuat kita semakin sporty look tak hanya di lapangan. League Neptune La M ini identik dengan sepatu yang ringan dan empuk sehingga akan terasa nyaman ketika dipakai berlari. You'll love every element of this kicks!

Jadi, itu dia beberapa macam sepatu produk Indonesia untuk pria. Karena sepatu-sepatu tersebut memiliki ciri khasnya masing-masing dan bisa di mix match sesuai event yang akan dilewati, maka sesuaikan juga dengan pakaian yang kita kenakan.  Lantas setelah itu upload foto OOTD di media sosial kita agar teman-teman lain dan seluruh dunia punya referensi sepatu yang bisa membuat dirinya tampil lebih kekinian lagi.

Sebenarnya masih banyak sepatu produksi Indonesia seperti Tomkins, Specs, Eagle, New Basket, Guten inc, Chevalier, Cannes, dan masih banyak lagi pastinya. Kalau berbicara mengenai harga sendiri, kita bisa menemukan sepatu yang harganya miring dan kualitasnya pun tak bisa diragukan lagi. Foto-foto sepatu di atas boleh saya ambil langsung dari website ZALORA Indonesia. Duh, ketika saya mencari referensi foto tersebut, tergoda sekali rasanya untuk berbelanja di sana. Ada satu dua bahkan tiga sepatu yang masuk ke dalam daftar keinginan saya. “So, find your own shoes at ZALORA Indonesia!
which shoes are you?



Durasi Baca: 5-6 Menit
"Paramasastra Ekonomi"

Dalam skala kecil mempelajari fungsi individu per-industrian
Menyikapi tingkah laku rumah tangga juga perusahaan
Berasumsi rumah tangga memaksimumkan kepuasan
Lalu profit dimaksimumkan perusahaan, di segi mikro perekonomian

Beralih ke skala besar bicara fungsi secara keseluruhan
Menyentuh pelbagai elemen masyarakat jelaskan perubahan
Menganalisis cara terbaik pengaruhi target kebijaksanaan
Tumbuh kembang harap dalam potret sisi makro perekonomian

Adakah kita tahu floor price dan ceiling price selalu jadi biang keributan
Masalah terjadi karena harga dasar dan harga tertinggi tidak sampai kesepakatan
Hingga mekanisme pasar menengahi pun sungkan
Krisis buat jadi semrawut dan serabutan sekaligus dua sekalian

Atau pernahkah kita menyelisik bidang moneter perekonomian
Di mana keadaan stabilitas harga tak mampu lagi tuk dijelaskan
Inflasi sana inflasi sini tak sanggup lagi dikendalikan
Sempurna sudah buat jerit rakyat semakin berkepanjangan

Di undang-undang nomor lima tahun sembilan sembilan
Mengatur masalah monopoli ekonomi, yang sering jadi keterangan pelanggaran
Kuasai barang atau jasa pasar dengan maksud menghancurkan
Yang penting obsesi tercapai dan persaingan dimenangkan, heran

Masih sama di tahun sembilan sembilan
Enam koma dua juta penganggur terbuka suatu institusi memperkirakan
Lebih lagi tahun lalu tujuh koma lima enam juta dalam bilangan
Pantas saja jika pengangguran disebut penyakit ekonomi kekinian, bukan?

Masalahnya semua masalah oleh kita selalu dipermasalahkan
Gemuruh distribusi dan rumitnya birokrasi di musim penghujan
Sama pusingnya seperti menghadapi kemarau berkepanjangan
Belum lagi infrastruktur yang berantakan mengganggu siklus kegiatan

Sampai akhirnya aktivitas impor pun kini menjadi pertanyaan
Setelah pangan, sektor apalagi yang akan ikut-ikutan?
Curigaku esok atau lusa justru petani kita berparas kaukasoid ke-eropaan
Kumohon, cukup impor saja dari mereka tentang sebuah kemajuan

Hanya untuk sekadar menegur kelangkaan
Yang menetap disekitar kita sudah kelamaan
Mungkin bila berhasil kita mengakuisisi kemajuan
Kita temukan antitesis sepadan, supaya tenanglah yang tersedu-sedan

Dengan begitu berkurang pula intensitas oceh berbagai keluhan
Bahkan buat tersenyum sedari ayah ibu bibi hingga paman
Bisa jadi bagi mereka juga yang mengadu nasib di jalanan
Aduhai apakah ini yang mereka bilang tentang negeri ekonomi impian

Sudah banyak wacana yang oleh para ahli dipaparkan
Namun belum semua buah akal itu bisa direalisasikan
Terkecuali apabila kita mau bersungguh dalam edukasi pemahaman
Dengan aplikatif dalam penerapan, bisa kembalikan normal lagi skala perekonomian

HIA & MAR
01 Februari 2016
Sudan - Jakarta

-0-0-0-

Baca #ProsaSelasa pekan lalu: Tentang Waktu
Filosofi #ProsaSelasa: Paramasastra Ekonomi:
Selamat hari selasa para penikmat #ProsaSelasa!
Menurut saya, inspirasi prosa kali ini datang secara tidak sengaja. Pada #ProsaSelasa sebelum-sebelumnya terdapat sebuah komentar yang secara gak langsung merupakan sebuah tantangan bagi kami (saya dan karib saya) untuk membuat prosa yang bertajuk ekonomi. Setelah #ProsaSelasa yang berjudul Tentang Waktu rampung terselesaikan, langsung saja kami eksekusi prosa ekonomi ini. Pada bait ganjil kami suguhkan kepada pembaca tentang sektor ekonomi mikro, selanjutnya bait genap biarkan sektor ekonomi makro yang berbicara, begitu seterusnya.
Ekonomi mikro di sini berbicara mengenai perilaku konsumen dan perusahaan yang tergambar pada bait pertama. Bait ganjil berikutnya, ada penentuan harga-harga pasar yang ikut disinggung juga pada prosa ini. Lalu masih ada lagi masalah monopoli ekonomi sebagaimana yang telah tercantum dalam UU No. 5 Tahun 1999, hal tersebut tentu merupakan salah satu faktor kegagalan pasar. Belum lagi gemuruh distribusi, rumitnya birokrasi serta infrastruktur yang mengganggu mobilisasi.
Lalu ekonomi makro juga hendak angkat bicara pada bait genap. Tentu kita tahu, lewat makro ini yang dipelajari adalah ekonomi secara keseluruhan atau dalam skala yang lebih besar lagi. Mulai dari inflasi yang kerap kali melanda ibu pertiwi, faktor tenaga kerja yang rasanya pengangguran ini bisa disebut penyakit ekonomi kekinian, ada juga sektor impor pangan yang sempat heboh pada awal 2016 ini.
Secara umum, memang terlihat prosa ini seperti berisi problematika baik dari mikro maupun makro. Sedangkan secara khususnya, prosa ini bertujuan untuk hal edukatif. Kalian pernah merasakan rumitnya belajar matematika atau fisika? Bete karena enggak paham-paham setelah baca text book –yang panjang, penuh penjelasan, dan belum lagi bahasa yang sulit dipahami- berulang kali? Nah! Begitu juga tujuan tersirat dalam #ProsaSelasa kali ini sebagai bentuk metode pembelajaran melalui gaya tata bahasa sastra. Jadi, di samping membahas problematika ekonomi segi mikro dan makro, pembaca secara tidak langsung juga sedang mempelajari materi ekonominya.
Saran dari penulis, jika kita merasa jenuh dengan metode pembelajaran yang biasanya diterapkan. Boleh sekali kalian menggunakan metode ini. Setelah buku ekonominya dibaca, dipahami, dan sudah ditandai bagian pentingnya. Bisa dibuat sejenis rangkuman singkat dengan gaya prosa seperti ini. Menarik, bukan? :)
Sebenarnya, ide ini terlahir dari obrolan iseng kami. Berawal dari sajak pertanian kemarin, lalu beralih ke prosa ekonomi ini, lantas kenapa kita tidak buat saja prosa mata pelajaran sebagai metode pembelajaran masa kini. Pelajaran matematika misalnya, belajar melalui bait-bait aksara pada rumpunan rumus dan angka. Siapa yang tahu kalau disajikan melalui tatanan prosa seperti ini, bisa merubah kesenangan terhadap salah satu pelajarannya. Awalnya enggak suka matematika jadi suka, awalnya enggak tertarik ekonomi jadi tertarik. Who knows?
Sekian #ProsaSelasa pekan ini. Terima kasih kalian sudah mau menyempatkan baca prosa kali ini. Sekarang, berikan komentar terbaikmu yuk!



Durasi Baca: 3-3 Menit

Pada tulisan kali ini, dengan penuh kerendahan dan senang hati saya umumkan bahwa blog ini resmi bertransformasi dari awaldiw.blogspot.com menjadi awaldirahman.com, Yeay!
Memang, blog ini baru lahir sebulan yang lalu terhitung sejak tanggal 2 Januari 2016. Pada awal pembuatannya pun terbesit niatan untuk langsung menjadikannya berdomain (dot)com, namun hal itu saya urungkan terlebih dahulu karena mau mencoba untuk konsisten kembali dalam menulis sekaligus merawat blog ini pikirku. Meninggalkan dunia blogging selama kurang lebih tiga tahun seperti yang pernah saya tuliskan di postingan ‘ini’, tentu butuh banyak penyesuaian lagi dengan berbagai hal, seperti pembiasaan dalam membuat sebuah tulisan. Jujur, saya membutuhkan lebih banyak lagi pembiasaan-pembiasaan untuk bisa memberikan sebuah tulisan yang apik untuk disajikan kepada khalayak ramai. Menulis satu artikel saja pun membutuhkan waktu sekitar 5 jam, bahkan salah satu artikel di bulan Januari kemarin ada yang proses pembuatannya sampai tiga hari.
Kembali mengenai domain (dot)com, awalnya saya berhasil untuk tidak langsung mengubahnya. Saya bertekad untuk memperbaiki serta merawat konten yang ada terlebih dahulu. Tetapi, semua itu berubah ketika teman saya meminta sebuah bantuan untuk mempercantik blognya, saya sih mengiyakan saja permintaan tersebut. Toh, hanya memperbaharui template dan menambahkan sedikit widget apa susahnya? Bersamaan dengan hal tersebut, teman saya ini juga sedang mengurus domain (dot)com untuk blognya. Lalu saya iseng saja nyeletuk di chat, “sekalian buat blog gue dong hehe.” Ternyata eh ternyata dia menanggapinya dengan serius dan menjawab kurang lebih seperti ini, “Iya tuh blog lo kalo diubah domain keren kali. Nanti deh gue bayarin domainnya tapi bantuin gue ya!” Tanpa berpikir panjang langsung saja saya terima tawaran tersebut hahaha. Begitulah kiranya asal usul mengapa saya beralih menggunakan top level domain (TLD) menjadi awaldirahman.com. Rezeki itu memang tak akan kemana-mana, bukan? J
Lalu, di mana tempat mengubah domainnya?
Saya sendiri, mengubah domain blog ini dengan bantuan pelayanan jasa dari qwords.com. Perusahaan yang sudah dibangun semenjak Juli 2005 ini merupakan salah satu penggerak pelayanan jasa mulai dari web hosting hingga domain pribadi. Saya memutuskan menggunakan jasa qwords ini tentu setelah mengetahui berbagai keunggulan serta rekomendasi dari beberapa teman blogger lainnya.
Salah satu keunggulan yang bisa dirasakan adalah pelayanan dari costumer service qwords-nya melalui percakapan online. Ketika saya mengurus pergantian domain ini, Mbak Miya lah yang menuntun saya dengan memberikan instruksi ini dan itu. Penuh syukur, berkat segala keramahan dan kesabaran Mbak Miya inilah akhirnya blog ini sempurna bertransformasi menjadi awaldirahman.com, tepatnya pada 28 Januari 2016 kemarin.

Testimoni percakapan online bersama costumer service Qwords

Senang bukan kepalang, akhirnya mimpi memiliki domain pribadi ini bisa terwujud pada hari itu. Karena ini merupakan kali pertamanya juga saya menggunakan domain pribadi selama berkiprah di dunia blogging. What a nice day! :)
Bertransformasinya domain blog ini tentu membawa beberapa harapan. Pertama, besar harap saya #ProsaSelasa bisa terus eksis dalam blog ini –hari ini akan terbit setelah postingan ini. Kedua, semoga segala konten dalam blog ini atau bahkan blognya pun bisa terawat dan terjaga selalu. Ketiga, semoga saya punya rezeki untuk memperpanjang domain ini tahun depan hehe.

Akhir kata, terima kasih kalian para pembaca setia blogku. Jangan bosan mampir dan jangan sungkan untuk memberi masukan yang membangun ya. Ohiya, jangan lupa untuk difollow juga ya blogku ini! ;)


Durasi Baca: 10-10 Menit

Assalamualaikum and Hello people!
Mungkin dengan mengawali tulisan kali ini dengan sebuah pertanyaan akan menjadi jawaban mengapa tulisan ini terlahir. Pertanyaannya, menurut kalian apa definisi dari ‘menawan’? Apakah dengan memiliki tampang ganteng dan cantik jelita? Apakah harus berpenampilan elok bak seorang pangeran? Atau, memiliki rona senyum indah ala Raisa?
Memang, anggapan itu enggak ada salahnya apabila hal-hal tersebut yang menjadi parameter sebuah penilaian terhadap menawan atau tidaknya seseorang. Tetapi, pada tulisan kali ini saya ingin mengulas lebih dalam lagi yang lebih menawan daripada tampang, tampilan, dan senyuman.
Sebutlah ia buku.

Nah, berikut ini ada lima manfaat baca buku yang dikemukakan oleh Raphael Lysander.
1.    Membaca dan Kesehatan.
Ternyata, membaca hanya dalam kurun waktu enam menit pertama saja itu sudah memiliki dampak yang baik bagi kesehatan tubuh kita, seperti membuat detak jantung kita bekerja normal, meregangkan otot-otot yang tegang, menenangkan pikiran, serta mengurangi rasa stress yang melekat saat itu. Selain itu, dengan membaca buku pun membuat kita lebih sehat 54 persen berbanding 44 persen daripada mereka yang enggak gemar membaca buku.
2.    Membaca dan Otak.
Apa kaitannya membaca dengan kemampuan otak kita? Banyak sekali kaitannya, seperti otak akan menyimpan lebih banyak lagi kosakata baru yang menjadikan perbendaharaan kata kita semakin banyak, stimulan memori yang efektif, kemampuan akan analisis dan fokus kita terhadap sesuatu meningkat, kemampuan komunikasi yang lebih baik, serta risiko demensia lebih rendah.
Nah, demensia atau yang lebih dikenal sebagai alzheimer ini dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan otak kita dalam berpikir, mengingat, juga mengkoordinasikan berbagai macam aktivitas. Duh, saya sih enggak mau deh mengidap alzheimer, kalian juga jangan sampai deh ya. Masih enggak mau baca buku? Eits, masih ada manfaat selanjutnya nih. Lanjut yuk!
3.    Membaca dan Kesuksesan.
Berdasarkan studi pustakanya Raphael Lysander ini, orang yang suka baca buku itu lebih melek huruf sehingga besar kemungkinan mereka akan dipekerjakan sekaligus mendapatkan upah yang lebih tinggi.
Tentu saja buku bisa menjadi guidebook buat kita dalam banyak hal. Pernah membaca buku Studentpreneur Guidebook-nya Arry Rahmawan yang mengupas bagaimana cara menjadi mahasiswa sekaligus pengusaha? Atau pernah baca novel Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah-nya Tere Liye yang di sana terdapat Borno sebagai tokoh utama sedang belajar tentang mengemudikan sepit lewat sebuah buku guidebook mesin? Saya sih pernah, dong! Suka banget sama kedua buku itu. Rekomendasi untuk dibaca deh!
4.    Membaca dan Anak-anak.
Dalam dunia seorang anak, membaca tentu dapat mempengaruhi wawasannya secara signifikan seperti membentuk kepribadiannya, menemukan identitas budayanya, meningkatkan kepekaan anak terhadap seni dan keindahan hingga menjadikan salah satu cara efektif untuk memanfaatkan perubahan sosial di sekitar.
5.    Membaca dan Lainnya.
Selain keempat manfaat yang telah dipaparkan tadi, memiliki kegemaran membaca ternyata juga berdampak pada hal lainnya seperti kita menjadi lebih berempati terhadap sesama. Dengan begitu, mudah bagi kita untuk memahami perasaan serta pikiran orang lain.

Tentu masih banyak sederet manfaat yang bisa dipetik dari membaca buku. Gimana? Masih mikir-mikir untuk mau baca buku? Atau jangan-jangan kita sudah menjadi bagian dari mereka yang candu akan buku? Berikut ini ada sedikitnya lima tanda yang menjadi indikasi bahwa kita seorang pecandu buku atau bukan. Mari kita cek. Markicek!
1.      Semakin tebal, semakin bagus.
Tanda yang pertama adalah jika sebuah buku semakin tebal wujudnya, maka sempurna sudah buku tersebut buat kita jadi melting ingin segera memilikinya dan ingin cepat-cepat bisa menyelesaikannya. Biasanya, tebal-tebal gini mah idaman para kaum wanita nih, tebal dompetnya maksudnya.

Semakin tebal, semakin bagus.

2.    Buku yang jadi juaranya.
Pada zaman sekarang ini, seringkali kita dikejutkan dengan beberapa hal heboh yang menggemparkan media massa dan dunia maya. Mau lagi heboh booming film ini, heboh menariknya game itu, heboh kasus si anu. Juaranya, tetap buku dong pastinya.

Buku yang jadi juaranya.

3.    Rasanya bak kehilangan seorang kekasih ketika sudah selesai baca sebuah buku.
Mula-mula jatuh cinta sama cover bukunya. Langsung dibeli. Pas dibaca, eh jatuh cinta sama isinya. Pertengahan buku, masih aman. Udah mau akhir-akhir, mulai panik. Udah habis halamannya, sedih deh. Padahal ceritanya lagi klimaks-klimaksnya. Ibarat menjalin hubungan dengan kekasih, lagi sayang-sayangnya, eh diputusin. Pasti sedih kan ya. Sekian.

Rasanya itu seperti kehilangan kekasih. Hiks.

4.    Membawa amunisi ketika liburan.
Musim liburan pasti salah satu hal yang sangat dinanti-nanti nih bagi semua orang. Ketika sudah tiba waktu liburan, tak peduli akan berlibur kemana, berapa lama, dan sama siapa. Amunisi yang satu ini wajib kudu mesti dibawa bagi pecandu buku.  Eits, amunisi yang dibawa bukan bom kok, santai.
 
Amunisi liburan panjang.
5.    Terlelap tidur bersamanya.
Sekuat apapun mata memaksakan untuk membaca, kalau rasa kantuk lebih kuat menyerang pasti akan berujung pada ketiduran. Bobo cantik kalau kekiniannya. Bedanya, bobo cantiknya pecandu buku itu masih sambil menggenggam buku.
 
Lagi bobo cantik ceritanya.
Dari lima tanda-tanda tadi, ada yang merasa nyerempet di salah satu poinnya kah? Atau malah di setiap poinnya merasa? Kalau begitu, selamat kamu seorang book addict yang telah lama dicari! Jadi, kapan aku bisa ke rumah? (loh?)

Lima manfaat baca buku, udah. Lima tanda-tanda pecandu buku, udah. Apa selanjutnya? Okay, berikut ini adalah lima jawaban untuk-mu, Stiletto Book.
1.    Kapan mulai suka baca?
Sejak kecil saya sudah ditanami minat baca oleh Papi, seorang mentor terbaik dalam hidup saya. Biasanya, kalau mau pergi ke mall bareng sekeluarga, saya dan Papi pasti nongkrongnya di toko buku sedangkan adik dan Mami saya asik berbelanja bulanan. Mungkin kebiasaan saya dalam membaca buku ini turun-temurun dari Papi yang suka koleksi beraneka ragam buku bacaan. Omong-omong soal koleksi, saya dan Papi memliki tempat favorit untuk menyimpan buku-buku. Tempat itu dinamakan “Pojok Buku.” Ya, meskipun hanya sekadar rak sederhana tapi lumayanlah untuk menyimpan sekaligus menjaga kelayakan buku-buku yang ada.
2.    Apa genre buku yang biasa dibaca?
Rasanya, saya tidak begitu terlalu pilih-pilih dalam membaca buku. Saya setuju sekali dengan pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Karena membaca itu sendiri adalah ruang imajinasi yang dibagikan oleh penulis kepada kita. Buku yang dengan berbagai macam genrenya memiliki cara unik tersendiri untuk memberikan pengalaman imajinatif kepada pembacanya, baik dalam bentuk penjelajahannya hingga pengetahuan baru yang akan didapat. Mulai dari buku bertajuk ‘how to’, pengembangan diri, novel teenlit, ensiklopedia, agama, romance hingga komedi, saya yakin pasti ada pelajaran tersirat yang disampaikan secara tidak langsung oleh penulis.
3.    Berapa budgetmu dalam sebulan untuk membeli buku?
Berbicara mengenai budget sepertinya saya tak memiliki nominal tetap per bulannya. Kalau ada rezeki berlebih hasil dari sisihan uang jajan, saya pergunakan untuk membeli buku. Kalau tidak ada, meminjam buku teman mungkin alternatif yang tepat. Kenapa tidak? Terlepas dari beli atau pinjam, esensi dari sebuah buku itu tetap ilmunya, bukan?
Ohiya, ada yang sudah baca buku Blogging: Have Fun and Get The Money-nya Mbak Carolina Ratri yang diterbitkan oleh Stiletto Book? Kalau saya sih, udah dong! Bermanfaat sekali kiat-kiat yang ditawarkan dalam urusan mengurus blog oleh Mbak Carolina ini.
 
Saya bersama buku Blogging: Have Fun and Get The Money dan Pojok Buku.
4.    Kenapa minat baca masyarakat Indonesia terbilang rendah?
Memang, survei dari UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kancah ASEAN. Sungguh ironis ya, tahu akan fakta tersebut. Itupun pembacanya kaum wanita kebanyakan. Kalau di Indonesia, kini ada Stiletto Book sebagai Penerbit Buku Perempuan yang telah berusia lima tahun. Harapannya, lahir juga penerbit bagi pria atau bahkan penerbit umum lainnya.
Pernah nonton Kick Andy? Suatu kesempatan, Andy F Noya, selaku pembawa acaranya pernah angkat bicara mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Ia menjelaskan semua itu karena terbatasnya jangkauan yang bisa mendongkrak minat mereka terhadap baca. Akses buku-buku berkualitas yang terbilang cukup mahal maupun akses buku di sekolah. Terlebih lagi bagi mereka yang hidup di daerah yang jauh dari kota sehingga menimbulkan dampak negatif akan minat baca pada masyarakat.
 
Beberapa orang lebih memilih baca di tempat daripada harus membeli.
Tampak wajah disamarkan, takut ada yang naksir.
Suatu kesempatan saya pernah berdiskusi dengan salah seorang teman mengenai rendahnya minat baca. Menurut kami, sebenarnya enggak sepenuhnya juga bisa dibilang rendah akan minat baca. Perkembangan zaman menuntut teknologi berkembang dengan begitu pesatnya sehingga kita hidup menjadi lebih kekinian. Begitu juga dengan dunia baca-membaca. Merasakan enggak, kalau kita mengalami transformasi platform baca menjadi ke e-book? Nah, bisa jadi hal itulah yang seolah-olah mengurangi minat baca buku di masyarakat. Ya, meskipun pendapat itu terlahir dari obrolan kecil kami, tapi berbeda pendapat itu tidak dilarang, bukan? Hehe.
5.    Bagaimana saranmu untuk pemerintah?
Sejujurnya, saya pribadi kurang tahu betul dalam perihal minat baca ini menjadi prioritas nomor berapa bagi pemerintah, utama atau ditempatkan pada urutan kesekian. Tetapi, sebagai mahasiswa yang merupakan salah satu elemen dari masyarakat, rasanya saya juga berhak untuk mengemukakan pendapat sekaligus saran saya terhadap pemerintah.
Sejatinya, minat itu tidak terlahir bersamaan dengan raga kita, tetapi tumbuh kembang bersamaan dengan bertambah usianya juga faktor lingkungan setempat.
“Gue kan gak hobi baca.”
“Ogah deh, tebel banget itu bukunya.”
“Ga usah maksa juga kali kalo ga minat.”
Mungkin statement seperti itu banyak kita dengar dari beberapa teman sejawat. Memang tak ada salahnya mereka enggan untuk membaca dan tidak bisa seenaknya memaksa mereka juga. Tetapi, apakah pernah kalian membaca kalimat ini, “Semakin tinggi minat baca seseorang, ia telah turut membuat peradaban menjadi lebih maju.” Pernah? Ya, minat baca itu juga berbicara mengenai kepribadian bangsa Indonesia. Tentu suatu bangsa bisa dikatakan hebat hanya dilihat dari minat bacanya. Bagaimana mungkin negara ini maju apabila masyarakatnya lebih suka bermalas-malasan? Nahloh.
Menurut saya, di sini pemerintah memiliki peran yang cukup besar tentang peningkatan minat baca masyarakat. Secara pemerintah memiliki kekuatan dalam support bentuk materil, maka dengan memasok buku lalu didistribusikan ke seluruh perpustakaan yang ada di Indonesia merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan animo masyarakat terhadap membaca. Selain itu, memberikan apresiasi kepada orang-orang yang berkecimpung di dunia kepustakaan dan dunia penulisan juga perlu guna memberikan dukungan secara tidak langsung agar minat baca ini terus berkembang dan tetap hidup.
Memang tak hanya pemerintah yang punya peran, setiap pribadi kita pun punya porsi dalam memenuhi hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara tidak langsung. Misalnya, peran orang tua buat menanamkan gemar baca pada anaknya –seperti yang dilakukan Papi saya. Begitu juga dengan pelajar, bisa ikut berkontribusi untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya seperti mengadakan event bedah buku atau membangun sebuah komunitas baca.

Pada akhirnya, membaca adalah salah satu kunci pembuka segala ilmu. “Semakin banyak buku yang dibaca, semakin banyak hal yang dipelajari, semakin sadarlah bahwa ilmu yang kita miliki ini sangatlah sedikit.” Happy long-life learning by reading! Baca buku yuk biar menawan! J

-0-0-0-


Muhammad Awaldi Rahman
Facebook: Awaldi Rahman
Twitter: @awaldi
Instagram: awaldirahman
Email: muhammadawaldirahman@gmail.com

 

Durasi Baca: 3-4 Menit
"Tentang Waktu"

Mereka bilang,
Dua yang sering sia-sia
Kesehatan dan waktu luang
Dengan tidak atau sengaja terlupa
Kedua nikmat itu datang lalu pergi menghilang
Barulah setelahnya sesal terasa
Penuh tanya apa mungkin semua bisa terulang
Berputar mundur meski sekejap saja
Namun relatifnya hanya mampu menjadikan semua rapi terkenang
Dalam memoar sahaja di ingatan manusia
Tetapi aku bilang,
Untuk diriku dan pula semua kita
Dekaplah ia, waktu yang tajam hunusnya bak sebuah pedang
Gunakanlah ia dengan arif dan bijaksana
Bukankah memang seharusnya begitu, wahai pejuang?

HIA - MAR
Ahad, 17 Januari 2016
Sudan – Sumedang

-0-0-0-

Baca #ProsaSelasa pekan lalu: Semoga Tidak Lagi Terjadi
Filosofi #ProsaSelasa: Tentang Waktu:
Halo pembaca setia #ProsaSelasa! Selamat hari selasa ya. Seperti biasa, setiap pekannya #ProsaSelasa selalu hadir dengan tajuk barunya. Menghadirkan sesuatu yang berbeda untuk dinikmati. Ohiya, apa kabar kalian di hari selasa yang cukup cerah ini? Semoga selalu berada dalam kondisi baik ya. Lagi apa sekarang? Pasti sedang berada di sela-sela senggangnya aktifitas, bukan? Nah, berbicara mengenai kondisi beserta waktu tentu sangat berkaitan dengan prosa kali ini, guys. Langsung aja yuk disimak!
Prosa kali ini inspirasinya datang dari sebuah hadits. Ketika itu, Rasulullah saw sedang memberi petuah kepada para sahabat-sahabat agar mereka lebih berhati-hati terhadap dua hal, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda, “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).
Sadar atau tidak, kerap kali kita membiarkan kedua nikmat itu datang lalu pergi menghilang lagi begitu saja. Barulah setelah nikmat itu pergi, rasa sesal datang membayang-bayangi. Mengapa dulu tak seperti ini. Mengapa dulu tak begitu. Namun sayang beribu sayang, sang waktu tentu saja tak bisa diputar mundur kembali, meskipun hanya sekejap. Terus berputar maju sebagaimana kodratnya.
Begitulah relatifnya sang waktu. Mungkin ada yang sedang tak sabaran menanti lalu bilang, “Duh ayo dong cepat datang pekan besok” dan ada juga yang bilang, “aduhai cepat sekali waktu berlalu, rasanya baru kemarin tahun baru.” Atas dasar relatifnya waktu yang telah berlalu itulah yang menjadikan semua yang sudah terjadi itu rapi terkenang dalam ingatan kita. Lagipula, bukankah ada sebuah syair arab yang berbunyi, “Waktu itu lebih berharga daripada emas.” Ada juga pepatah arab yang berbunyi, “Waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tak memotongnya maka dia yang akan memotongmu.” Siapa lagi yang punya kendali atas pemanfaatan waktu yang kita punya selain diri sendiri. Ah, tentunya ini juga reminder buat penulis secara pribadi.



P.s:
Manfaatkan waktu senggang dengan sebaik-baiknya, Yuk!
Jaga kesehatan juga ya supaya bisa baca #ProsaSelasa pekan depan hehehe.

Source Image: Pinterest