Durasi Baca: 4-5 Menit

Berbicara masa lalu, hm. Kalau remaja yang gagal move on mungkin akan bilang, “Ah yaudahlah ya, masa lalu mah gausah dibahas. Nyeri hate.” Abis ngomong gitu mojok di kamar, stalking mantan, lalu nangis kejer karena doi udah punya yang baru hehe. Kalau penyanyi dangdut terkenal, Inul Daratista, mengekspresikan masa lalu dalam sebuah lagunya, “Masa lalu, biarlah masa laluuu.” Maaf gak usah nyanyi, ini blog bukan Inul Vi*zta tempat karokean. Kalau mereka yang dulunya punya memori kelam mungkin akan bilang, “Bunuh adek, Bang. Hayati lelah dengan semua ini. Masa lalu itu aib ah.” Kalau Facebook terkenal dengan Kaleidoskop akhir tahunnya. Kalau Instagram terkenal dengan Best Momment-nya. Maka disini perkenankan saya untuk menuangkan masa lampau 2015 saya dalam sebuah tulisan. Menghadapinya. Berdiri gagah. Memeluk setiap kisah. Menempatkan kisah itu di tempat terbaik (Re: Blog ini). Check it out!
Pada awal tahun 2015, Januari. Sebagai lulusan SMA tahun 2014, saya masih harus legowo dengan menyandang status masih pengangguran. Sedih ketika harus menyaksikan teman-teman saya sudah kuliah tetapi saya belum. Sedih ketika mendengar teman-teman saya berbicara mengenai ipk mereka yang luar biasa hancurnya. Kegiatan-kegiatan mereka yang di luar nalar saya rasanya seru. Tetapi hal itu tak boleh berlarut dan membuat saya semakin tertekan. Di balik itu semua, saya masih bisa merasakan liburan bersama mereka. Ketika itu kami rekreasi berkeliling ibukota Jekardah. Kesepakatannya adalah tidak menggunakan kendaraan pribadi baik itu mobil ataupun motor. Semua wajib, kudu, mesti, dan harus naik busway. Pelopornya, Akhdan. Dia berdalih, “Liburan kali ini tuh bukan sekedar untuk jalan-jalan, buang-buang waktu, hamburin uang. Tapi, kita sekalian memperkenalkan betapa beautiful-nya Indonesia ini.” Katanya sih gitu, katanya.
Here we are!

Februari berlalu begitu cepat. Sampai akhirnya maret tiba. Bulan yang sangat saya tunggu-tunggu. Tepatnya 3 Maret, I am 18, Yeay! Ulang tahun kali ini spesial dan berbeda bagi saya. Bagaimana tidak, saya mendapatkan ucapan dan sedikit buah tangan dari fans-fans teman-teman setia saya. Semoga doa dan juga kebaikan kalian kembali lagi ke diri kalian masing-masing ya.

Finally 18, Yeay!

Masih di bulan maret yang ceria. Sebuah anugerah bagi saya dalam segala keterbatasan yang ada, bisa mengunjungi kota Haramain. Ibadah umrah tentu. Namun, saya terbang ke tanah suci itu juga dengan membawa harapan untuk bisa kuliah di salah satu Universitas terbaik disana, Universitas Islam Madinah. Ya, harapan ketika itu. Saya melaksanakan tes langsung di sana dan untuk hasilnya masih digantungin. Entahlah, mungkin gak lulus kali ya. Lewat kejadian itu akhirnya saya tau, oh ini rasanya digantungin?
Satu pekan berada di kota Mekkah, membuat saya begitu merasakan begitu adanya semangat berlomba-lomba dalam kebaikan di sana, begitu maqbul semua doa-doa yang terucap. Lima hari selanjutnya saya dan rombongan melanjutkan ibadah tersebut di kota Madinah. Hal yang begitu terasa di sini adalah semangat akan menuntut ilmu yang menggebu-gebu. Betapa beruntungnya saya bisa berkunjung ke kedua kota itu.



April dan Mei, saya lalui dengan penuh tangis haru. Setelah beberapa pekan harus dirawat di rumah sakit daerah Rawamangun. Tepat pada 6 Mei 2015, Nenek (Saya memanggilnya Ibu) menghembuskan nafas terakhirnya di usia ke-64. Tak ada rasa lagi selain diselimuti rasa sedih pilu. Kehilangan salah satu nenek terbaik yang pernah ada di hidup saya. Kehilangan salah satu nenek yang mengajarkan saya banyak hal. Rindu, Bu. Semoga tenang di alam sana ya, Bu.


Juni dan Juli, momen di mana saya diberi kesempatan kedua kalinya untuk bisa menyandang status ‘mahasiswa.’ Saya gunakan momen yang ada untuk nge-date  bareng. Bareng kamu buku maksudnya. Tes pada 9 Juni. Kemudian saya digantungkan lagi selama sebulan lamanya. Panitia SBMPTN, lo ga asik! Hehe. Alhasil, karena segala jerih payah saya dengan memanfaatkan waktu yang ada untuk nge-date tadi, saya berhasil lolos dalam seleksi tersebut. Bukan masalah meskipun hanya diterima pada pilihan ketiga. Karena pilihan pertamanya kan kamu, iya kamu (Loh?). Gembira bukan kepalang saya saat itu, Rasa-rasanya saya diberi kesempatan untuk menata ulang mimpi lagi.
Tibalah saya di bulan Agustus. Bulan penuh dengan THR, halal bi halal, makanan enak, dompet tebal. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Agustus ini saya bisa dipertemukan lagi dengan teman-teman seperjuangan ketika di bangku SMA. Kenangan-kenangan masa sekolah seketika hadir lewat obrolan-obrolan cantik yang tak sengaja dilontarkan. Rasanya seperti mau kembali ke masa SMA.

One big family of Senhigh5 :)

Finally, masih di bulan yang sama saya menyandang status sebagai mahasiswa baru alias ‘maba.’ Menjadi seorang anak jurusan agribisnis itu, kamu menantu idaman! Haha. Merantau dari Jakarta ke Sumedang dengan membawa banyak harapan keluarga. Harus melewati fase hidup sebagai anak kostan yang serba ala-ala, ala kadarnya saja. Indomie lagi, indomie lagi. Ah, sudah biasa hehehe.

Udah anak agribisnis banget, belum?


Dunia perkuliahan dengan beraneka macam kegiatannya menyibukkan diri saya. Membuat waktu terus berputar terasa begitu cepatnya hingga sampailah saya di penghujung tahun 2015. Setelah melewati suka-duka, lika-liku, serba-serbi di semester awal kuliah ini, saya mengakhiri aktifitas kuliah dengan sebuah kuliah lapangan yang berkunjung ke perkebunan di Pengalengan, Bandung. Ketika itu saya dan teman-teman sekelas diajak untuk menjadi seorang ‘petani berdasi’ selama setengah hari.

AgriB(ur) on vacation.


Pada akhirnya, saya sangat bersyukur dengan apa yang telah dilewati pada tahun 2015 kemarin, karena mengajarkan saya begitu banyak hal tentang memaknai sebuah kehidupan. Pertama, hidup ini harus disyukuri mau bagaimana pun kondisinya. Selama kita mampu untuk bersyukur, niscaya kita akan mendapatkan lebih dari sekedar apa yang kita inginkan melainkan mendapatkan juga apa yang kita butuhkan. Kedua, jikalau ada pepatah lama yang berbunyi "di mana ada pertemuan, di situ pasti ada perpisahan." Bisa juga dapat kita artikan bahwa "semua yang bernyawa (permulaan) pasti akan mati (perpisahan)." Jadi, persiapkan sedini mungkin bagi diri kita untuk menghadapi perpisahan tersebut. Pelajaran memaknai hidup yang terakhir, Ketiga, sejatinya hidup adalah perjuangan. Menjumpai sebuah kegagalan bukan berarti harus membuat kita berhenti mencoba, bertekuk lutut dipojokan kamar, lalu meratapi nasib malang seorang diri, lalu update galau di sosial media, bukan. Tetapi dengan mengevaluasi lalu memperbaiki kesalahan yang ada. Bukankah proses tak akan berdusta pada hasilnya? 
Bagi saya, tahun 2015 adalah tahun perjuangan. Perjuangan untuk mewujudkan mimpi-mimpi lama yang telah dibuat. Kalau meminjam kalimatnya orang bijak, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Maka dalam konteks ini, tahun ini (2016) harus lebih baik daripada tahun kemarin (2015). Let’s make differences guys!




Durasi Baca: 3-4 Menit

Belum lama ini, Adele, salah satu penyanyi terkenal asal London ini merilis single terbarunya yang berjudul “Hello.” Jadi, saya beserta segala kerendahan hati meminjam kata tersebut untuk dijadikan judul dalam mengawali lahirnya blog ini sekaligus post pertama di tahun 2016.
“Hello world! This blog is a new part of my life.”
Itulah kalimat pertama yang terucap dalam hati saya saat blog ini terlahir. Tak terasa sudah sekitar hampir tiga tahun saya vakum dari dunia blog. Mungkin sebagian dari kamu akan ada yang bilang ‘baru juga’ tiga tahun atau bilang ‘sudah’ tiga tahun. Hmm, betapa relatifnya waktu. Hal yang pasti adalah begitu banyaknya ilmu nge-blog yang saya lewatkan dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini. Bagaimana tidak, sangat disayangkan ketika saya harus mempensiunkan blog lama saya yang dibangun sejak 2010 dan terbengkalai semenjak Februari 2013 silam.
Sejak 2013 tersebut, terbuatlah sebuah wacana dan terus menjadi wacana untuk membuat sebuah web personal yang saya kira terkesan terlalu banyak maunya. Jadilah web personal tersebut tidak terbit-terbit ke permukaan dunia maya hehehe. Hampir tiga tahun hidup saya terselimuti akan wacana itu. Oleh karena itu, di awal tahun ini saya berusaha memutuskan wacana itu dengan melahirkan sebuah web blog personal yang baru.
Blog ini lahir untuk saya persembahkan kepada tiga orang yang paling berpengaruh dan paling saya cintai. Pertama, sujudku pada Ibunda, Mami tersayang, Yuli Pertiwi. Wanita shalihah nan tangguh dalam menjalani kehidupan dan mendidik anak-anaknya. Hingga sampai saat ini, doa-doanya adalah senjata terbaik bagi saya dalam menjalani lika-liku hidup ini. Kedua, Mentor terbaik, Papi tersayang, Rezi Yunizar. Terima kasih atas dunia yang Papi ajarkan ke Aldi. Ketiga, Amelya Zahra Yulizar. Ah, kakak tau pasti kamu sayang kan sama kakak. Ohiya, di sekolah udah ada yang naksir kakak, belum? Hahaha.
Mungkin sebagian orang berpendapat kalau menulis itu merupakan sebuah kegiatan yang menjemukan. Apalagi ketika kita tidak tahu hal apa yang akan kita tulis, terasa seperti ada benang kusut dalam pikiran, macet ide, lalu shut down laptop dan gak jadi nulis hahaha. Permasalahan klise. Saya pun tak terbilang pandai dalam dunia tulis-menulis, tetapi saya suka menulis. Itulah kenapa blog personal ini terlahir dengan harapan bisa menjadi sebuah platform bagi saya untuk mengembangkan kemampuan menulis saya dalam berbagi suka maupun duka juga berbagi kebermanfaatan.
Sebelum post ini saya akhiri, perkenankan saya memaparkan sebuah alasan mengapa saya tertarik untuk bergabung dengan “Blogger Energy”. Sejatinya, setiap manusia adalah makhluk sosial. Membutuhkan sebuah hubungan atau interaksi dengan orang lain dan tak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Menurut saya, komunitas itu merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung kesuksesan sebuah kegiatan juga sebuah kata kunci yang memiliki daya ungkit tinggi guna membangun sebuah kesuksesan –dalam hal ini kesuksesan sebuah platform menulis. Oleh karena itu, saya memilih Blogger Energy sebagai salah satu sarana saya untuk menjemput kesuksesan dalam dunia blog.
Terakhir, saya berharap kepada para pembaca yang baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong bersedia untuk share dan comment pada tulisan ini guna mendukung keproduktifan saya dalam menulis post berikutnya hehe. Terima kasih!


Photobucket

Source: Google Images

Durasi Baca: 3-4 Menit

Sempurna sudah mentari duduki singgasananya. Menyinari alam semesta ini begitu terik, menyarukan. Sinarnya memantul pada telaga bening dengan menawarkan kilau keemasan, juga membuat mata elok. Secercah awan menemaninya dengan senyum sendiri. Desir angin berbisik bersama alunan berita langit membawa sepotong episode kehidupan.
Terlihat seribu gembel yang sedang berdansa ria di jalanan yang ditemani dengan simfoni nyanyian hati. Dengan tergopoh, menyusuri jalan, mengais bersama sampah, bau busuk karibnya. Mandi keringat, banting tulang merupakan hal lumrah yang mereka lakukan, meskipun hanya untuk bertahan hidup. Tidak bertahan lama, sebagian dari mereka terbuang dan menyisakan sebagian yang lain. Begitu mudah tersingkirkan.

Di pertigaan jalan sana, seorang gembel dengan pakaiannya yang lusuh, muka kusam, dan bau badan, sedang berusaha untuk menjumpai takdirnya. Ia bernama Lubit, gambaran sampah jalanan yang mengais derita. Di kala lampu berwarna merah, ia tempelkan wajahnya pada kilat kaca mobil sembari berkata: “Tuan, berikan hamba beberapa keping untuk makan”. Diabaikan, ia berpindah ke kaca mobil yang lain. Begitu selanjutnya, ketika lampu berwarna merah, ia bergelut ke jalanan, dan ketika lampu berwarna hijau, dengan tergesa ia menghindar dari lindasan roda-roda mobil penghantar maut itu.

Di pertigaan jalan yang lain, Hendar. Gembel yang terlepas dari takdirnya. Gembel yang hampir kehilangan arah. Bermodalkan botol plastik yang berisikan beras, ia dendangkan melodi indah dari lubuk hati terdalam. Mengharap simpati mereka.

Orang Pinggiran, Oh…

Di terik mentari…

Di jalan becek…

Menyanyi dan menari…

Srek srek,

Lagu merduku, teralun indah untukmu.

Di pengkolan sana, merupakan tempat kami bertukar keringat, bertukar rasa peluh.

“Hei, dapat berapa perak kau, Bit?”

“Tidak seperak pun, yang kudapat malah cacian-cacian yang menusuk hati. Sakit sekali hatiku ini”

“Ah kau ini, seperti anak kecil saja. Sudah berapa lama kau tinggal di jalanan? Sabarlah, asal kau tahu, hal-hal yang menyakitkanlah yang membuat kita semakin dewasa. Jika kau tidak sabar, itu tandanya kau menolak atas pendewasaan pada dirimu. Atau mungkin kau salah memaknainya? Berilah makna baru untuk hal itu, dengan begitu kau pasti akan terbiasa”

“Astaga, sejak kapan kau bijak seperti ini? Haha”

“Sial kau!”

“Tetapi, benar juga sih, Dar. Aku harus lebih sabar lagi ke depannya”

“Nah! Begitu dong…”

Mereka pun kembali ke dalam lingkaran dengan penuh asa. Kembali lagi merangkak, menjerit, berteriak, dan berputar-putar. Setelah kemudian rasa peluh itu datang kembali nanti, mereka merapat ke pinggiran lagi. Pulang.

Kala senja menyingsing, dan mentari mulai sirna. Senantiasa menghadirkan nuansa jingga di tepi barat. Jingga yang menyisakan isak tangis dalam hati. Hembusan angin yang menyelinapkan berjuta rasa dalam jiwa. Di senja yang teduh, seteduh tatapan mata seorang ayah pada keluarganya tercinta.

-x-X-x-

Sayup-sayup suara azan maghrib saling sahut-menyahut. Hanya sekejap, serdadu gamis putih menyerbu masjid-masjid setempat. Di bagian lain, orang-orang berbondong-bondong keluar dari pabrik untuk pulang setelah seharian membanting tulang. Bagian lainnya lagi, seorang bayi sedang menangis meminta manja dari bundanya. Tetapi disini, gembel-gembel itu membisu. Sunyi. Raganya berbaring, tetapi angan ingin sekali meraih mimpi. Mimpi yang masih menjadi bagian cerita di esok hari.

Langit-langitlah yang menjadi saksi bisu atas semua yang terjadi pada kehidupan yang fana ini. Akhirnya Lubit pun tiba di istananya. Hanya sebuah istana yang beratapkan langit, dan bersekatkan kardus-kardus bekas. Ia yang pulang dengan tangan hampa, mendapati istrinya yang sedang terlelap tidur, Nadia. Ia menangis seketika, menjeritlah hati ini. Jeritan yang penuh dengan penyesalan. Lalu ia berdoa pada Tuhan.

Wahai Tuhan,

Telah sampailah aku di malam-Mu.

Setelah usang kubertebaran di bumi kala siang-Mu.

Laksana angin yang menerpa embun, jatuh jernih terisap tanah.

Terasa letih diriku ini berjalan.

Berlapis debu tubuhku perlahan.

Pudarnya senja berikanku teguran.

Untuk  bersujud angankan ampunan.

Wahai Tuhan,

Tahukah kau apa yang sesungguhnya hari ini terjadi?

Lihatkah kau apa yang tubuh ini kerjai?

Sungguh amat terasa diri ini merugi.

Wahai Tuhan,

Aku belum dapat bahagiakan orang tercinta.

Aku belum sempat untuk bawakan mereka gembira.

Aku hanya mampu beri mereka potongan-potongan elegi.

Wahai Tuhan,

Atas kuasa-Mu ampuni siang kami tadi.

Mungkin tuhan tidak akan menjawab. Mungkin ia tidak membutuhkan jawaban atas itu. Sudah berulang kali ia berharap, hatinya menjerit. Namun, kata-kata itu bagaikan tidak memiliki makna bagi-Nya.

Lubit pun duduk di pelataran sandaran pohon jati yang mewangi, tempatnya menanam harapan-harapannya yang berharap itu akan terjadi. Sejenak bersandar, sekedar pelipur lara, sejenak. Akhirnya badannya tergolek lemah, bertikarkan debu halus yang melekat erat pada tanah. Hati kecilnya berkata: “Malam, izinkan aku terlelap sebentar. Aku berjanji akan berjumpa lagi dengan pagi. Ia ingin sekali menitip secarik pesan untukmu, tentang dilema hidup yang masih menjadi teka-teki misterius. Mencarimu, melaluiku”.

Pada malam itu, rembulan lupa untuk memberikan pelitanya. Desir angin pun enggan berbisik menyapa daun. Akar sunyi, menjalar dan berkelabat. Semesta seolah-olah tidak berputar pada malam itu.

Lihatlah! Di pertigaan jalan kelok itu, bocah perempuan cantik nan hijau bagaikan rerumputan di pegunungan yang gersang, masih setia menanti senyum tuan dan nyonya berbalas ramah. Malam yang kelam mengajarkannya untuk memberikan rona senyuman menggelitik.

Pinta-pinta bocah itu pada siapa saja yang iba kepadanya. Pada jalanan, ia menari dan juga bernyanyi menggoda hati. Berharap satu atau barangkali dua perak lebih.

Di relung malam, bocah itu tersenyum. Malaikat-malaikat penjaga menatapnya dari langit. Berbisik halus hingga terdengar sampai di lubuk hatinya: “Tidurlah, sayang, tidur. Biarkan mimpi indahmu bercerita lagi di esok hari”.

Berita langit telah bersua pada hari itu, terangkai istimewa dalam untaian cerita yang tercuri entah oleh siapa. Mengisahkan tentang aku, dia, dan mereka.


Sungguh beruntung nasibku, predikatku di SMA yang terkenal dengan prestasinya yang banyak, mampu menghantarkanku ke perguruan tinggi terkenal, Universitas Korea. Untuk biayanya, setiap hari aku harus berjuang menjadi seorang tukang sapu jalanan. Mungkin hanya itulah satu-satunya cara agar aku bisa tetap kuliah.
Bagaimana dengan hasil ujian nasionalku ketika SMA? Astaga, mengenai hal itu aku sangat bersyukur sekali. Lagi-lagi aku berhasil mendapatkan nilai rata-rata tertinggi di sekolah, lalu diikuti oleh sahabatku, Lee yang berada di peringkat kedua.
Perjuangan keras yang selama ini aku dan Lee lakukan, membuahkan hasil yang membanggakan. Aku dan Lee percaya bahwa setiap hasil yang didapat, pasti sebanding dengan usaha yang ia lakukan. Oleh karena itu, aku dan Lee benar-benar memanfaatkan waktu luang untuk diskusi bersama.
Bicara tentang Lee, sahabatku. Ia sudah hijrah ke kota Berlin tiga pekan yang lalu. Sesuai dengan perkataanya bahwa ia akan pindah setelah ujian nasional nanti. Dan beruntunglah aku pada saat sebelum kepergian Lee, aku ditemani Ayah dan Ibu masih bisa menghantarkannya hingga bandara yang ada di ibukota. Lee berjanji padaku akan berkunjung kembali kesini setelah ia sukses menjadi manajer perusahaan besar. Lalu Lee pun pergi, sahabat terbaikku pergi.
Di Berlin sana, kabarnya Lee aktif di berbagai organisasi di kampusnya. Begitu juga denganku, saat kuliah inilah awal mula titik balik hidupku. Aku mulai berkenalan dengan dunia politik, menjadi anggota dewan mahasiswa, hingga aku ditarik menjadi salah satu pekerja di pabrik kendaraan ternama. Meskipun hanya seorang pekerja, semua itu kujalani dengan sepenuh hati.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
10 Tahun Kemudian,
Kemampuanku mengundang perhatian dari seluruh pekerja pabrik, hingga terdengarlah berita itu kepada pendiri pabrik. Tanpa harus berpikir panjang, pendiri pabrik tersebut dengan beraninya memposisikanku di divisi konstruksi. Sungguh, aku terkejut seketika saat mendengar berita itu. Bukan karena aku takut akan posisi itu, melainkan amanah yang akan kutanggung akan lebih berat lagi.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
20 Tahun Kemudian,
Setelah sekian lama aku bekerja di pabrik, kini aku menapaki kembali dunia politik. Pada tahun itu juga aku tercatat sebagai anggota dewan, dan meninggalkan dunia konstruksi. Semua itu dengan harapan agar cita-citaku dulu bisa terwujud dan menjadi kenyataan.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
10 Tahun Kemudian,
Kini aku menjadi seorang tokoh yang paling dipandang di kota Seoul. Ya, sudah selayaknya seorang walikota suatu kota itu dipandang, karena interaksi langsung kepada masyarakat pasti terjadi disana. Dan satu langkah lagi cita-citaku akan terwujud, menjadi orang nomor satu di Korea Selatan.
Dan yang mengejutkan pada tahun itu adalah kedatangan Lee, sahabatku datang jauh dari Berlin sana. Sungguh ia datang dengan membawa kabar baik. Kini dirinya telah menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan minyak di Berlin. Ia terlihat lebih gagah, tampan dan lebih mapan seperti kedua orang tuanya. Sayangnya, pertemuan itu hanya singkat. Lee harus pulang kembali ke Berlin karena mempunyai urusan lain yang lebih penting.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
5 Tahun Kemudian,
Aku sangat bahagia sekali. Aku yang masa kecilnya sangat miskin itu, kini menjadi orang nomor satu di Korea selatan. Hidupku mulai dari kemelaratan yang luar biasa hingga menjadi seorang presiden seperti yang terjadi saat ini. Sebuah pembuktian bahwa cinta, perjuangan dan keyakinan itu dapat menaklukan segalanya. Dan setiap orang itu memanglah berhak untuk hidup sukses.
Aku sangat berterima kasih kepada Ayah dan Ibuku yang selalu menasihati, membimbing dan menuntunku menuju jalan yang terbaik. Juga untuk sahabat seperjuanganku, Lee. Kini saatnya aku yang berkunjung ke perusahaan minyak terbaikmu di Berlin. Lee, aku sukses, aku seorang presiden.


Selepas kenaikan kelas dua. Ayah dan Ibu memutuskan untuk pindah ke ibukota, Seol. Dengan harapan kehidupan mereka akan jauh lebih baik. Namun, setelah dua minggu tinggal disini, nasib orang tuanya tetaplah terpuruk, menjadi penjual sayur di jalanan.
Saat itu juga, aku memutuskan untuk lepas dari orang tua, dan bekerja menjadi buruh bangunan. Cukup sudah aku membuat mereka susah selama ini. Sudah saatnya aku berlaku dewasa, berpikir ke depan. Menyongsong masa depan yang cerah. Dan pada saat itu juga aku bercita-cita menjadi seorang pegawai.
Tahun pertamaku di SMA berjalan dengan lancar. Pada awal-awal tahun aku cenderung menyendiri dan menjauh dari anak-anak lain. Namun, pada pertengahan tahun aku sudah mulai bisa bergaul dengan yang lain. Begitu juga pada prestasi yang telah kuraih, salah satunya adalah juara satu karya tulis ilmiah mengenai cara kerja mesin pada sebuah transportasi. Prestasi yang cukup bergengsi di sekolahku. Prestasi itu kutorehkan sebagai penutup tahun ajaran.
Begitu juga dengan tahun kedua. Prestasi-prestasi lain dengan mudah kudapatkan. Aku selalu ditunjuk, dan berhasil meraih kemenangan itu dengan mudah setelah berusaha keras. Selain itu aku juga terpilih menjadi ketua OSIS sekaligus ketua kelas di sekolah. Mengemban amanah yang cukup banyak. Tidak mudah, tetapi kucoba jalani. Oleh sebab itu, aku menjadi murid kepercayaan para guru di sekolah.
Dan kini, ujian nasional SMA hanya tinggal tiga hari lagi. Seluruh pengorbanan atas waktu yang selama ini aku habiskan untuk menuntut ilmu, akan segera terbayar. Dan pengorbanan para guru-guruku yang pantang menyerah akan memberikan ilmu yang bermanfaat bagiku akan membuat kabar-kabar baik itu datang tentunya. Aku percaya itu.
“Man, pulang bareng yuk?!” Tiba-tiba ajak Lee salah satu sahabatku yang memecah lamunanku.
“Okedeh, ayo!!!” Balasku semangat.
Dengan cepat aku bergegas bangun. Lalu beranjak pulang meninggalkan sekolah bersama Lee. Seperti biasa, selepas pelajaran tambahan aku dan Lee selalu pulang bersama. Saling bertukar cerita selama di perjalanan, baik itu cerita sedih, senang, tentang rencana kuliah, masa depan, sampai masalah keluarga. Begitu akrab aku dengan Lee, begitu juga dengan keluarganya. Baik sekali kepadaku.
“Man, kamu ada rencana untuk kuliah tidak?” Tanya Lee membuka percakapan di perjalanan pulang ini.
“Ada siiih, tapi kamu juga mengertilah. Tahu. Bagaimana kondisi keuangan kedua orang tuaku. Sebelumnya maaf, bukannya aku bermaksud untuk sombong, Lee. Aku bisa melanjutkan sekolah hingga sekarang ini saja, itu karena aku mendapatkan beasiswa penuh. Entahlah, akan menjadi apa kelak, jikalau aku tidak mendapatkan beasiswa itu. Bisa saja aku akan menjadi penjual koran, pengemis mungkin, atau pengamen yang menjual suara indahnya demi mendapatkan beberapa suap nasi. Bisa saja kan?” Jawabku panjang lebar lalu balik bertanya.
“Iya juga siiiiih” Jawab Lee pendek.
“Kamu sendiri rencana kuliah dimana, Lee?”
“Rencananya, aku akan kuliah di eropa sana, Man. Prospek kerja Ayahku akan dipindahkan ke Berlin, Jerman. Dalam waktu dekat ini. Mungkin setelah ujian nasional besok. Mau tidak mau pasti aku akan ikut kesana. Kecil kemungkinan untuk menetap disini”
“Kamu beruntung sekali, Lee. Terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Bahkan bisa dibilang lebih. Nah, sedangkan aku?”
“Huuuuush!!! Jangan begitu kamu, Man. Bersyukurlah dengan keadaanmu yang sekarang. Bagaimanapun juga kedua orang tuamu itu telah bersusah payah mencari nafkah, hingga sampai saat ini, untuk mencukupi kebutuhanmu juga kan?”
“Iya juga siiih. Huh”
“Sudahlah, Man. Jalanilah hidup ini dengan santai. Hadapi saja rintangan yang ada dengan senyuman. Semua akan terlihat dan terasa lebih indah jika dibalas dengan senyuman bukan? Biarkanlah hal yang sudah terjadi berlalu bagai angin yang berhembus, dan sudah waktunya kita tatap masa depan yang cerah dengan penuh keyakinan. Kita tatap ujian nasional esok dengan penuh keyakinan, Man! Oke Pak Presiden?” Kata Lee disambung dengan canda kepada Kerman.
“Oke deh Pak Manajer!” Jawab Kerman sembari berjabat tangan sebagai tanda sepakat dengan Lee.
“Hahahaha” Kami tertawa bersama.
Tidak terasa kami berjalan sudah cukup jauh. Menara sekolah yang terbilang tinggi itu pun sudah tidak terlihat lagi. mungkin kami terlalu asik dalam pembicaraan selama diperjalanan pulang ini, sehingga benar-benar tidak terasa bahwa kami sudah setengah jalan.
“Oiya Lee, bagaimana nih persiapan untuk ujian nasionalmu? Kan tinggal beberapa hari lagi tuh” Tanya Kerman.
“Udah siap dong, Man. Hanya tinggal ikhtiarnya saja deh. Gimana dengan kamu sendiri?”
“Siap banget! Sudah tidak sabar lagi aku, Lee. Hahahaaa...” Jawab Kerman semangat.
“Wah...wah...hebat deh kamu, Man. Semoga saja kita mendapatkan hasil yang terbaik yah. Supaya mudah untuk kuliahnyaaa...”
“Benar banget, Lee. Semoga saja begitu”
Tanpa disadari, doa-doa mereka tergantung di birunya langit, tergantung bersama dengan doa-doa berjuta jiwa lainnya. Dan tanpa mereka sadari juga, seluruh alam semesta beserta penciptanya sepakat untuk mengabulkan permintaan mereka berdua.
Tertiba saja angin berhembus kencang. Membuat pepohonan dan rerumputan bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Dan tertiba saja langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi gelap. Pertanda hujan akan turun dalam waktu dekat.
“Eh Man, sepertinya hujan akan turun nih! Gimana kalau kita lari saja? Daripada kita kehujanan nantinya, jatuh sakit, dan tidak bisa ikut ujian nasional, ya gak?” Kata Lee memberi saran kepada Kerman.
“Ayo deh, Ayo Lee! Haha” Balas Kerman lalu berlari duluan meninggalkan Lee di belakang.
“Waah curang kamu, Man!” Gerutu Lee lalu berlari menyusul Kerman di depan.
“Hahahaha” Kerman menertawakan Lee.
Dan akhirnya mereka berpisah di pertigaan jalan. Kerman tetap berlari lurus, sedangkan Lee berlari belok ke arah kanan. Beruntunglah mereka, hujan baru turun tepat saat mereka menginjakkan kaki di teras rumah mereka masing-masing, jadi mereka tidak kebasahan sedikit pun. Selamat.
Begitulah persahabatan Kerman dan Lee. Saling menghiasi satu sama lain, saling melengkapi, dan saling menghargai. Itulah yang membuat hidup mereka tidak monoton, membuat hidup mereka lebih berwarna, dan menjadi lebih indah lagi. Bagi mereka, persahabatan itu dapat melipat gandakan kebahagiaan dan mengurangi kesedihan di antara mereka berdua. Dan seharusnya persahabatan memanglah begitu.
*~*~*~*~*~*~*~*~*


“Hei Man! Sudah dululah belajarnya, hampir 6 jam kau terus-terusan belajar. Lupa mandi, lupa minum. Ayolah kita makan malam bersama”
“Baik bu...” Jawabku tanpa membantah perintahnya.
Tentu saja aku tidak akan membantahnya, aku tidak memakan selain ampas gandum semenjak sarapan pagi tadi. Ya, hanya itu. Aku pun bergegas berkumpul bersama Ayah dan Ibu di tempat biasa kami makan bersama.
“Man, kamu serius ingin melanjutkan sekolahmu ke tingkat SMA?” Tanya Ayah saat makan bersama.
“Iya yah, akuu ingin sekali melanjutkan jenjang sekolahku ke yang lebih tinggi lagi” Jawabku dengan lantang.
“Tapiii...”
“Tapi kenapa yah?” Tanyaku penuh rasa penasaran karena wajah Ayah tertiba saja berubah.
“Ya kamu juga tahu bagaiman kondisi Ayah dan Ibu saat ini, kondisi keuangan kita, kondisi keluarga kita. Bahkan makanpun kita hanya memakan ampas gandum. Itupun hanya dua kali sehari”
“Jadiii... Aku tidak bisa melanjutkan sekolah lagi, Yah?” Tanyaku sedikit memelas.
“Bukan begitu maksud Ayah. Kamu bisa melanjutkan sekolah, tetapi masalah biaya Ayah dan Ibu angkat tangan” Jawab Ayah terus terang.
“..............”
“Jalanmu masih banyak, Man. Satu  pintu tertutup maka pintu-pintu lainnya siap menyambut kedatanganmu. Cobalah saja dulu. Apalagi kamu termasuk anak berprestasi di sekolah. Jalur beasisiwa pun bisa saja kamu dapatkan asalkan berusaha. Katanyaa mau banget jadi presideeen” Kata ibu yang mencoba membuka jalan pikiran Kerman.
“Apa iya aku bisa, Bu?” Tanyaku masih kurang yakin.
“Tentu saja kamu bisa, sayang. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Layaknya Thomas Alfa Edison yang telah beratus-ratus kali gagal menciptakan sebuah lampu. Namun, pada percobaan ke-1001 kali, barulah ia berhasil menciptakannya. Berusaha mencintai apa yang ingin dicapai, lalu ditambah dengan perjuangan keras dan keyakinan. Akhirnya keinginannya tercapai tanpa sia-sia dan hingga saat ini namanya dikenang, dan hingga saat ini juga hasil penemuannya masih bisa kita rasakan. Ingat Man! Intinya ada tiga yang harus kamu lakukan dan taklukan. Cinta-Perjuangan-Yakin” Jawab Ibu panjang lebar.
“Ayah sangat berharap kelak nanti kamu tidak akan seperti Ayah saat ini, tetapi kamu bisa jadi orang yang sukses dan bisa memimpin untuk kemajuan negara” Sambung Ayah.
Aku hanya bisa termanggut-manggut dan akan merenungkan perkataan Ayah dan Ibu sebelum tidur nanti.
Percakapan singkat itu telah usai.
Ayah bergegas bangun dan masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Ibu, ia sibuk membersihkan tempat makan bersama tadi. Lalu aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan melanjutkan belajar.
Sesampainya di kamar, aku bergelut kembali dengan tumpukan-tumpukan buku pelajaran. Cukup banyak. Hal ini memang haruslah dilakukan, bahkan dipaksakan. Jika beasiswanya hanya jalan satu-satunya bagiku untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, maka inilah salah satu bentuk usahaku untuk mendapatkan besiswa itu.
Waktuku untuk mempersiapkan semuanya hanya tinggal seminggu lagi. Pekan depan.
Tidak terasa kini malam mulai larut. Sudah saatnya aku bergegas untuk tidur. Ibu pernah berkata bahwa tidur terlalu larut itu tidak baik, akan mengganggu aktifitas kita esok harinya. Jadi, lebih baik aku mendengar kata-kata Ibu daripada konsentrasiku hilang seketika saat belajar di sekolah besok.
Sayup-sayup angin malam berhembus begitu tenang. Mengetuk setiap jendela rumah penduduk. Memenuhi hingga sudut ruangan yang hampa. Hingga berhembus damai mengahantarkan tidur lelapku.
Sempurna sudah aku terlelap tidur. Terbang dalam buaian jutaan mimpi dan jutaan misteri. Mimpi-mimpi itu tergantung pada indahnya langit dan semua misteri itulah yang akan terjadi kelak. Cepat atau lambat.
*~*~*~*~*~*~*~*~*
Berita gembira ini harus segera tersampaikan kepada Ayah dan Ibu. Pastilah mereka bahagia mendengarnya.
Aku melengkah lebih cepat, tidak sabar lagi untuk secepatnya tiba di rumah. Membawa kabar baik ini. Astaga, tidak sia-sia aku selalu bergelut dengan buku-buku itu. Kini seluruh usahaku telah terbayar tunai dengan hasil yang kuterima saat ini.
Langit yang tadinya mendung, kini kembali cerah. Burung-burung keluar kembali dari sarangnya. Berkicau nan merdu. Saling sahut-menyahut. Rumout-rumput kembali bergoyang-goyang diterpa angin. Seolah-olah mereka bisa merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Bahagia.
Setibanya di rumah, aku langsung mencari dimana Ayah dan Ibu berada. Ternyata mereka sedang membicarakan sesuatu. Urusan keluarga mungkin.
“Yah! Bu! Aku berhasil mendapatkan beasiswa itu. Hahaha” Kataku tanpa basa-basi terlebih dahulu.
“Serius kamu, Man? Wah, selamat yaaa.....” Balas Ayah lalu memelukku.
“Selamat yaa sayang.....” Sambung Ibu lalu bergantian dengan Ayah memelukku.
“Makasih Yah, Makasih Bu. Ini semua juga berkat Ayah dan Ibu yang selalu memberikanku dorongan agar tetap semangat dan terus berusaha”
“Sama-sama, Man...” Jawab Ayah dan Ibu bersamaan.
“Akhirnya tercapai juga jadi anak SMA” Ledek Ayah.
“Apa deh yah?” Balasku.
“Hahahaha” Kami tertawa bersama.
Akhirnya satu kabar baik telah ditampakkan. Satu misteri telah terungkap pada hari itu. Membuat keluarga sederhana itu merasa lebih bahagia akan segala sandiwara yang ada dalam kehidupan yang fana ini.
Aku lulus dengan nilai rata-rata yang hampir sempurna. Berada di peringkat teratas dari 213 peserta yang mengikuti tes. Cukup puas. Melanjutkan sekolah di tingkat SMA dengan mendapatkan beasiswa penuh selama tiga tahun. Sebuah prestasi tentunya.
Masa depan yang cerah siap kunanti. Tentunya akan lebih baik lagi dari hari ini.