Durasi Baca: 5-6 Menit

Tengah malam dan belum aku bisa tidur
Suntuk buat mata terasa jadi sulit diatur
Namun masih malas tubuhku naik kasur
Untuk terpejam nyenyak dan mendengkur

Sendiri aku terbuai di ujung lamunan
Hingga waktu pun tak sempat lagi kuperhatikan
Hanya diam yang mampu dominasi keadaan
Tenggelam dalam duduk termenung memikirkan

Benakku diajak imajinasi melanglang
Melayang terbang datang lalu hilang
Semua maslahat terbayang berulang
Dari bangsa ini mulai banyak yang berkurang

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri

Bergulat atas nama kongsi dan koalisi
Berebut kursi beradu elit jas safari
Dana reses dipakai kebutuhan pribadi
Salah, bukan kebutuhan tapi hasrat diri dan emosi

Gagah diri alih alih berorasi
Basa-basi tebarkan janji ilusi
Teriakkan selamatkan martabat negeri
Realita jadinya atau sebuah teka teki

Kemudian dua instansi pemerintah saling beradu
Berbalas tangkap saling kuat-kuatan regu
Media vokal informasikan kabar dengan ragam tajuk terbaru
Warga jadi penentu, apresiasi dan reaksi tentu berlaku

Gerangan apa cekcok mereka berlandas
Siapa ditindas siapa menindas seakan jelas
Bergeming hati ini penuh tanya gemas
Dimanakah sesosok pemimpin nan tegas

Semakin bertambah penasaran aku dengan lingkup hidup di nusantara
Kebenaran nampak semakin timpang di kelopak mata
Hal keadilan rumpang dibiarkan menganga
Petinggi yang seharusnya jadi promotor bangsa bermain licik dari balik meja kerja

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri

Tercekik rakyat juga tertusuk hingga palung hati
Meninju wajah yang terus menari rasanya ingin sekali
Sayang hadirnya hanya pada layar televisi
Empat belas inchi besarnya itu pun belum lunas terbeli

Begitulah geramnya komentar tetangga selepas maghrib tanpa membual
Saat aku tanya terhadapnya negeri ini makin jadi barang komersial
Dia tetanggaku adalah si miskin yang hidup nya terpingkal
Oleh candaan monopoli ekonomi si kaya dari gedung bertingkat terhadap finansial

Polemik berbagai sektor masih bermacam wujudnya
Sungguh letih mengiba dengan semua fakta yang ada
Mari buang penat nestapa, mari jemput bola bahagia
Bangkitlah indonesia, bukan sekedar macan asia juga hebat di mata dunia

Buka kembali mata nusantara yang sudah lama sayu dan semu
Tegak kan badan berjalan bangga buat kembali langkah baru
Bersama berpadu bertopang bahu bungkus rapi memori masa lalu
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu!

Di bagian bumi bernama ibu pertiwi
Politisi senggol sana senggol sini
Kalah lalu mendengki, menang tak tahu diri
Berujung pada melukai rakyat sendiri
Semoga tidak lagi terjadi

MAR & HIA
Jakarta - Sudan
29 Januari 2015

 

-0-0-0-

 

Filosofi #ProsaSelasa: Semoga Tidak Lagi Terjadi:
Helo teman-teman! Selamat hari selasa ya. Belum telat untuk menerbitkan #ProsaSelasa yang baru, bukan? Hehe. #ProsaSelasa kini hadir lagi untuk mengisi waktu kalian selama beberapa menit saja. Prosa ini diambil dari arsip lama memang dan hadir dalam kemasan tema bahasan yang berbeda lagi tentunya. Prosa ini tercatat rampung pada tanggal 29 Januari 2015 silam. Artinya kurang lebih sudah jadi pada setahun yang lalu. Lebih tepatnya lagi ketika Indonesia sempat dihebohkan masalah kpk vs polri. Tenang, maksud saya di sini bukan untuk mengungkit masa lalu atau masalah lama. Terlebih ke arah menyelipkan banyak harapan kepada mereka. Ya, satu harapan dari satu kepala yang mungkin mewakilkan banyak kepala lainnya.
Masih menggunakan konsep sama dengan #ProsaSelasa pekan lalu (baca di sini) yaitu puisi yang dibuat secara berantai dengan seorang karib saya semenjak SMP. Ini bukan kali pertama atau kedua kami berkolaborasi membuat sebuah prosa, melainkan untuk kesekian kalinya. Mungkin di #ProsaSelasa lain waktu bisa saya ceritakan awal mulanya saya bisa berkolaborasi dengan karib saya ini. Semoga.
Bagian awal dari prosa ini di awali dengan permulaan seseorang yang tak bisa tidur ketika malam sudah beranjak larut. Mungkin bahasa kekiniannya itu insomnia. Sudah memasuki waktu bagian galau dini hari saat itu. Melamun. Duduk termenung. Galau. Pikirannya dibayang-bayangi oleh berbagai macam kisruh yang terjadi di negeri ini.
Jadi, dalam prosa ini si tokoh utama merasa bingung dengan politisi yang kerap kali masyarakat mengidentikkannya laiknya ‘oknum’ yang tukang buat onar, buat  sensasi, dan tak jarang buat heboh. Terkadang, untuk mendapatkan posisi yang diinginkannya itu membuat mereka melakukan cara yang kurang terpuji. Menghalalkan segala cara. Entahlah semua itu berujung pada sebuah tindakan nyata atau sekedar janji belaka. Selalu saja di televisi ramai tentang mereka, tentang cekcok antara aparat negara yang seharusnya kompak dan saling mendukung guna menjaga keutuhan dan stabilitas negera.
Belum lagi dari segi ekonomi. Mungkin dari sudut pandang anak kimia yang melihat perkara tersebut akan berlaku hukum Markovnikov, “Yang kaya akan semakin kaya, yang miskin juga semakin menjadi-jadi.” Hal yang timpang ini tak hanya dirasakan oleh si tokoh utama, tetapi juga si tetangga yang menjadi pemeran bantu ini juga merasakan hal yang serupa.
Eits, tapi tenang saja kawan, masih banyak juga politisi yang ingin mengharumkan nama, mengangkat harkat serta martabat bangsa Indonesia melalui profesi mulianya itu. Masih banyak dari mereka yang sepenuh jiwa dan raga melayani. Setulus hati mengabdi pada ibu pertiwi. Masih banyak juga dari mereka yang peduli. Semoga saja pada akhirnya mereka semua satu visi. Bak semboyan negeri ini saja, “Berbeda-beda tapi tetap satu jua.” Kalau bukan menjadikan negeri ini macan di Asia bahkan dunia apalagi. Semoga saja semakin banyak generasi muda yang lahir dan bisa melanjutkan tongkat estafet perjuangan memajukan bangsa ini.
Oleh karena itu, sebelum jatuh terlelap tidur si tokoh utama ini menyimpan banyak harap semoga hal-hal buruk yang terjadi pada akhir-akhir ini tidak lagi terjadi. Harapannya, ketika esok hari bangun Indonesia bisa menjadi macan asia yang mengaum gemparkan dunia. Tapi, semua itu kembali lagi ke seluruh lapisan elemen masyarakat. Perlu didorong dengan penuh tenggang rasa antar sesama. Perlu didorong rasa saling percaya. Perlu didorong dengan saling mengingatkan dalam kebaikan. Demi Indonesia yang lebih aman, tentram, dan damai. Juga demi Indonesia yang kembali menjadi sebuah satu kesatuan yang utuh.
Mungkin, sebagian dari kalian berpendapat prosa ini merupakan sindiran keras. Prosa yang menjatuhkan. Sarkasme. Tapi bukan itu sebenarnya maksud dari prosa ini terbuat, bukan. Sebagaimana yang telah dipaparkan tadi, inti dari prosa ini adalah harapan-harapan akan kebaikan. Dibanding dengan syair Taufik Ismail yang berjudul “Malu Aku Jadi Orang Indonesia.” Prosa ini bukanlah apa-apa. Lewat syair tersebut, Taufik Ismail mengekspresikan kekecewaannya terhadap pemerintah dan itu merupakan tamparan keras bagi para aparat negara. Kembali lagi saya tekankan, inti dari prosa ini adalah menekankan akan harapan sebuah kebaikan yang didambakan oleh banyak orang. Terima kasih.
Gimana pendapat kalian? Yuk beri pendapat terbaik kalian. Seperti biasa, silakan berbeda pendapat.



Durasi Baca: 5-6 Menit

“Kalau aku nggak berkarya apapun, masa aku berani menyebut bahwa diriku ini seorang penulis? Kalau aku nggak nulis lagi nantinya, apakah aku akan tetap dianggap sebagai seorang penulis?”

Siang kemarin, tepatnya di sebuah bis yang sedang melaju menuju kota di mana tempat saya menuntut ilmu, saya merasa ditampar seketika saat membaca kutipan tersebut pada salah satu koleksi buku bacaan saya. Kalimat tersebut merupakan sebuah sindiran keras bagi saya pribadi. Bagaimana tidak, selama saya vakum tiga tahun ke belakang lamanya dari dunia nge-blog sebagaimana yang telah saya ceritakan di sini, dengan begitu percaya dirinya saya memasang status profile di pelbagai akun media sosial dengan status “A Writerpreneur.” Istilah tersebut ada terlebih karena memang saya suka menulis dan juga suka berwirausaha. Jadilah istilah writerpreneur tersebut. Bahkan mengapa nama blog ini awaldiw(dot)blogpsot(dot)com, huruf ‘w’ terakhir pada awaldiw itu saya filosofikan sebagai writerpreneur sebenarnya. Saya pikir, siapa tahu bisa menjadi sebuah doa juga kan. Semoga iya, Aamiin.
Namun, sekedar ‘suka’ seperti yang saya jelaskan tadi saja rasanya tidak cukup apabila tidak didukung dengan sebuah usaha. Ibarat kalau kita suka sama seseorang, tapi tidak ada usaha untuk mengungkapkan rasa mah yang ada ditikung dengan ketikungan tiga puluh derajat hehehe. Jadi, kembali lagi kepada diri kita masing-masing apakah bersedia menyeimbangkan bakat yang sebenarnya melekat erat pada diri kita tersebut dengan berusaha keras atau tidak. Make your own decision guys!
“Diw, kamu suka nulis ya?” Iya.
“Diw, kamu suka buat puisi ya?” Iya.
“Diw, kenapa gak dilanjut ngeblognya? Sayang banget ih.” Duh, jadi enak ada yang sayang (?)
Mungkin tidak hanya saya, sebagian dari kalian barangkali pernah ditanyakan hal yang serupa. Oleh karena itu, saya berusaha kembali ke dunia per-blog-an dengan membawa beberapa alasan, tujuan dan harapan tentunya. Malu dong ah sama status di berbagai sosmed hehe.
Nah, dalam tulisan kali ini saya akan berbagi mengenai sedikitnya tiga alasan mengapa harus bangga menjadi blogger.
1.               Blogger bukan untuk semua orang.
“Diw, apa perlu orang macam kita-kita ini ngeblog?”
Suatu waktu pernah saya mendapatkan pertanyaan seperti itu. Menjadi seorang blogger memanglah bukan profesi wajib untuk semua orang. Menurut saya, sebenarnya kita pun tidak perlu nge-blog apabila memang tidak memiliki cukup waktu luang, seandainya sama sekali tidak ada nilai tambahnya bagi hidup, frustasi atau tidak nyaman sama sekali ketika menulis, dikejar-kejar tugas sehari-harinya, atau merasa terancam ketika menjalin relasi sosial di ranah dunia maya. Singkatnya, kita tidak perlu repot-repot nge-blog jika enggan untuk berkomunikasi dan berbagi dengan sesama.
Jika kita seorang tukang pahat yang memang selalu bekerja penuh seharian, pesanan selalu mengalir deras, sampai-sampai waktu istirahat pun kurang ya saya rasa tidak perlu nge-blog. Berbeda lagi apabila kita seorang desainer produk dan memerlukan sebuah media yang bisa memamerkan produknya. Mungkin dengan nge-blog bisa menjadi mediatornya. Bisa menghubungkan dengan pelanggan dan menjadi ruang tersendiri untuk berkonsultasi dengan para klien.
Jadi, berbanggalah kita sebagai orang-orang yang terpilih menjadi blogger. Memiliki passion menulis untuk berbagi yang tidak bisa dirasakan manfaatnya oleh sembarang khalayak ramai tentunya.
2.               Blogger bukan profesi biasa.
Pada era modern ini, mungkin nge-blog itu bisa diartikan sebagai salah satu sarana yang bisa dilakukan seseorang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tidak sedikit orang yang mendadak populer dan bisa menghasil income menengah ke atas hanya karena rutin nge-blog. Semua itu tergantung bagaimana kita pintar dalam memanfaatkannya saja. Misalnya, ikut serta dalam berbagai kompetisi blog, melalui job review, juga lewat ajang giveaway yang kerap kali diadakan oleh beberapa para blogger, dan memasang banner iklan. Mungkin dengan berbagai cara tadi bisa lebih menjadikan profesi blogger itu sebuah kebanggan yang luar biasa. Bahkan, barangkali bisa menjadi sarana untuk mewujudkan impian saya menjadi seorang writerpreneur hehehe.
Dengan begitu kita tidak perlu merasa canggung lagi kalau misalkan ditanya oleh calon mertua mengenai apa pekerjaan kita dan berapa penghasilan yang didapat.
“Jadi, nama kamu Awaldi?” (Ini interview seleksi menantu apa seleksi kerja ya?).
“Iya, Om. Iya, Tante” Masih santai.
“Kalau om boleh tau, apa profesi kamu?” Masalah kerjaan, jelas job desk nya si Om (Calon papa).
“Blogger, Om. Bahasa kerennya sih, bloggerpreneur atau writerpreneur” Mulai bangga, sambil angkat alis. Biar terlihat gaul menggoda gimana gitu.
“Memangnya berapa penghasilan kamu per bulan sebagai blogger?” Kalau masalah penghasilan siapa lagi yang nanya kalau bukan tante (Calon mama).
“Hmmm, lumayan sih tante tergantung momen juga, kalau momennya lagi bagus ya tingkat permintaan meningkat dan hasilnya banyak, kalau nggak ya permintaannya biasa-biasa dan hasilnya pun standar aja. Biasanya per bulan aku bisa menghasilkan 10 artikel, 200 komentar, dan 5000 pengunjung. Itu pun belum termasuk pengikut, Tante.” Jawab penuh mantap. Intronya udah macam anak agribisnis, belum?
“.........” Cara memandangnya mulai berubah.
“Kalau dikalkulasikan setahun ya kira-kira bisa sampai 120 artikel, 2000 komentar, dan satu juta lebih pengunjung, Tante.” Percaya diri melanjutkan.
“.........” Semakin beda lirikin matanya.
“.........” Mulai tegang.
*seketika hening*
“Hmmm, okay setelah om dan tante menimbang dari berbagai aspek, riset di beberapa tempat, dan uji kelayakan. Jadinya kamu...”
“Kamu.....?” Degdegan.
“Kamu mau kapan nentuin tanggal buat resepsinya?”
“Ah, seriusan ini, Ma? Eh, Tante maksudku?” Tuhkan yesh!
Loh, ini jadi bahas apa hehehe. Kembali ke laptop. Intinya, seseorang blogger menjadikan nge-blog sebagai profesi yang bisa menghasilkan banyak uang karena buah hasil dari merawat blog, bukan dari blognya. Meminjam perkataan Matt Mullenweg, selaku pendiri layanan hosting gratis Wordpress, “You can make more money because of your blog, not from your blog.” Agree?
3.               Blogger bukan sekedar mengambil, tetapi juga berbagi.
Tidak jarang kita menemukan beberapa orang yang menggerutu seperti ini misalnya, “Ah diw, ngapain nge-blog kalau diisi dengan beraneka ragam tulisan tapi nggak ada bayarannya?”
Dalam hal itu, tentu saya tidak bisa memaksa dan menyalahkan mereka yang enggan membuat sebuah blog ketika tahu tidak ada fee-nya. Karena ya pada dasarnya nge-blog itu merupakan pekerjaan yang tidak dibayar alias gratisan toh.
Pada hakikatnya, nge-blog itu berbicara juga mengenai niat dan minat yang ditambah keinginan untuk berbagi. Pertama, terlebih dahulu kita harus memiliki niat (nge-blog) dan minat dalam belajar, mengembangkan potensi diri, dan berpikiran terbuka. Hei, nilai dari sebuah pekerjaan itu tergantung pada niat awalnya, bukan? Kedua, tambahkan keinginan berbagi dengan orang lain. Menulis di berbagai platform, merekam momen-momen kegiatan seru kita, mengemukakan gagasan lalu mempublikasikannya merupakan bentuk sebuah kerelaan, toh? Siapa tahu apa yang kita tulis itu bisa menginspirasi banyak orang sehingga memiliki nilai manfaat. Tanpa adanya hal tadi, saya rasa simpan saja baik-baik tulisan kita dalam bentuk draf di laptop, sampai bersarang laba-laba kalau perlu hehe.
Menurut saya, kita tak perlu merasa dirugikan dalam masalah nge-blog. Bukankah selama ini kita berseluncur di dunia maya ini tidak bayar?  Jadi, anggap saja nge-blog ini merupakan feedback kita dari apa yang sudah diperoleh dari internet secara cuma –cuma. Cukup adil, bukan?
Itulah tiga alasan mengapa harus bangga menjadi blogger versi saya. Untuk kesimpulannya, mari kita introspeksi diri masing-masing bahwa menjadi seorang blogger ini adalah suatu anugerah tersendiri bagi kita atau menganggapnya sama sekali bukan sebuah anugerah. Terakhir, sebagai pelajaran yang bisa diambil dari kejadian yang saya alami kemarin siang, kalau mau menjadi seorang penulis ya mulailah dengan menulis sesuatu. Sesederhana itu.
Punya opini lain? Silakan berbeda pendapat pada kolom komentar di bawah ini.


Source Image: Voices of Rusia



Durasi Baca: 5-5 Menit

Kutatap hiruk pikuk manusia hilir mudik
Berarak-arak tumpah ruah di jalan-jalan
Mondar-mandir riuh bergerak bolak-balik
Sambil didamba-damba oleh mereka angan-angan

Andai diriku bisa terbang melayang
Ingin rasanya kususuri penjuru ibu pertiwi
Agar jelas harap akan semua yang membayang
Masih indahkah bumi tani atau telah usai

Dibawah mata kaki ku ialah bumi yang sangatlah subur tanah nya
Tanah surga disebutnya dalam dendangan lagu
Lempar tongkat kayu juga batu tumbuhlah bertunas semua
Kau duduk lah sebentar biar aku terangkan istimewanya negeri agraria itu

Namun maafkan aku bila tak cukup sebentar masa untuk bercerita
Tentang Sabang-Merauke yang dicipta Tuhan dengan sumringah
Tentang hamparan tanah coklat mengkilat, tempat tumbuh harap dan cita
Juga tentang senyuman dan sekuntum bunga yang sama merekah

Negeri Khatulistiwa ini punya berjuta hektar sawah ladang dan kurasa kita tahu akan itu
Lebih lagi dengan ditambah berjuta hektar hutan dan perkebunan yang membentang hijaukan belantara Indonesia
Dahlia, Flamboyan, Semanggi, Kamelia, Cendana, Meranti, Mahoni sedikit kusebutkan beberapa jenis untukmu
Tak asing ditelinga memang, namun beberapa nama dan jenis dari bunga, umbi, biji, kayu, sayur, buah kini makin asing di mata manusia

Ah, masih ada beranekaragam ternak juga beratus ribu gerombol ikan yang tak mungkin kusebut jenisnya satu persatu
Aku, kamu, juga mereka pasti terselimuti rasa takjub terpesona jika melihatnya
Sungguh! Kau takkan sudi beranjak pergi meski hanya tuk sementara waktu
Tetapi, kurasa potongan cerita ini masih belum bisa disebut sebuah rangkaian sempurna

Sebab hari hari ini paceklik kian meresahkan
Agroekosistem timpang, miring sebelah
Petani dan tukang kebun mulai risau kehilangan meter demi meter tanah dan lahan
Mata nya berbinar dan nanar oleh pencakar langit yang menjulang nan kokoh menimpa petak demi petak sawah

Tepatnya disana, di gubuk tepi sungai kutemui seorang tua bermata binar
Benaknya terkenang di masa jaya saat negeri ini bergelar swasembada
Di bentangan langit, persis tanggal 14 kutemui purnama tak lagi bersinar
Dalam pekat malam, ia menyala tetap yakin pada harapan pun perubahan ada dipundak pemuda

Hei kawan, pasti kau mengerti kata pak tua itu bukan
Biar esok atau lusa rujukan sektor agrikultural Asia bahkan dunia adalah tanah ini
Supaya jadi bukti hasil semai bibit asa para pelakon pertanian
Dapat dipanen dan mengisi perut keturunan nya di kemudian hari

Serukan lagi! Agraria ialah identitas pun jatidiri
Perjuangan ini bukanlah mudah, namun janganlah menyerah
Kembalikan lagi hak mereka yang hilang dicuri
Reformasi pertanian ialah harga mati tuk masa depan gemilang nan cerah

Mari ikut aku, kita susuri permainya Indonesia dengan jalan beriringan
Sembari pulang, kita telisik tabir pada poros dan batas humanitas dalam modernisasi
Kita sungguh mampu menimang komoditi global agronomi pangan
Bertuah dengan nama pertanian, menyandang idealisme Agroteknologi

Mari ikut aku, kita susuri permainya Indonesia dengan jalan beriringan
Sembari pulang, kita panggul gelora asa pengembangan budidaya penuh optimis
Kita sungguh mampu wujudkan stabilitas ekonomi tani tuk sekarang juga masa depan
Bertuah dengan nama pertanian, menyandang idealisme Agribisnis

Mari kawan, sampaikan salamku pada keluargamu
Esok mari sama sama kita sempurnakan kisah tadi jadi lebih seru

Langit Jakarta, Tasikmalaya, Sudan.
Rabu, 13 Januari 2016
MAR. YSK. HIA

-0-0-0-

Filosofi Sajak Agroekosistem:
Puisi ini bermula ketika saya, sebagai anak kuliah jurusan Agribisnis, mengawali liburan pada semester pertama. Perjalanan pulang sangat ramai memang saat itu. Lalu, terbesitlah di pikiran saya untuk mengajak kedua kawan saya ini membuat sebuah puisi berantai.
Puisi ini bercerita tentang sektor pertanian masa kini, mungkin. Mulai dari permasalahan petani yang kehilangan pekerjaan karena alih fungsi lahan lah hingga nama-nama jenis tumbuhan yang kita tahu hanya sebatas jadi nama jalan saja. Hal yang serupa terjadi pada nama-nama komoditas perikanan dan perkebunan (buah). Namanya pun itu lagi itu lagi. Tapi, apakah semua dari kita tahu akan wujud dari semua nama tersebut? Belum tentu.
Sampai puisi ini selesai terbuat, terkesan masih saja banyak orang yang kurang akrab dan peduli sama sektor pertanian. Padahal, banyak harapan dari apa yang ditanam oleh para petani. Padahal, sejatinya hidup kita tak terlepas dari segala komoditas pangan pada setiap harinya, bukan? Selama manusia masih butuh makan, sektor pertanian akan selalu dibutuhkan rasa-rasanya.
Sajak Agroekosistem ini terlihat seperti percakapan antara dua orang. Saling antusias dalam membahas seputar problema sektor pertanian. Belum selesai hanya sampai sisi permasalahan saja, di sini juga keduanya terlihat saling mengajak supaya lebih percaya diri lagi dan peduli terhadap pertanian. Harapannya, dengan kolaborasi agroteknologi dan agribisnis yang kooperatif mudah-mudahan bisa mengangkat strata pertanian di negeri ibu pertiwi, Indonesia. Tentu harus dibarengi dengan dukungan dan support saling percaya dari berbagai elemen hingga merambah pada masyarakat luas juga, bukan hanya sekedar dari dua elemen tadi.

-0-0-0-

Halo pembaca blog awaldiw yang baik hati, rajin menabung, dan tidak jomblo sombong. Selamat hari selasa. Selasa di surga bisa blog ini bisa dibaca kamu, iya kamu. Apalagi kalau meninggalkan komentar di bawah ini hehehe. Terima kasih sudah mau membaca ya.
Nah, berhubung ini hari selasa. Saya mau memperkenalkan salah satu rubrik baru di blog ini. Rubriknya adalah #ProsaSelasa. Jadi, rubrik ini akan diterbitkan pada hari selasa. Tidak melulu hari selasa terbit untuk #ProsaSelasa. Menyesuaikan kondisi saja keberlangsungannya. Tetapi, rubrik ini salah satu bacaan yang pastinya kamu tunggu-tunggu kok. See you next week ya!

Durasi Baca: 4-5 Menit

Berbicara masa lalu, hm. Kalau remaja yang gagal move on mungkin akan bilang, “Ah yaudahlah ya, masa lalu mah gausah dibahas. Nyeri hate.” Abis ngomong gitu mojok di kamar, stalking mantan, lalu nangis kejer karena doi udah punya yang baru hehe. Kalau penyanyi dangdut terkenal, Inul Daratista, mengekspresikan masa lalu dalam sebuah lagunya, “Masa lalu, biarlah masa laluuu.” Maaf gak usah nyanyi, ini blog bukan Inul Vi*zta tempat karokean. Kalau mereka yang dulunya punya memori kelam mungkin akan bilang, “Bunuh adek, Bang. Hayati lelah dengan semua ini. Masa lalu itu aib ah.” Kalau Facebook terkenal dengan Kaleidoskop akhir tahunnya. Kalau Instagram terkenal dengan Best Momment-nya. Maka disini perkenankan saya untuk menuangkan masa lampau 2015 saya dalam sebuah tulisan. Menghadapinya. Berdiri gagah. Memeluk setiap kisah. Menempatkan kisah itu di tempat terbaik (Re: Blog ini). Check it out!
Pada awal tahun 2015, Januari. Sebagai lulusan SMA tahun 2014, saya masih harus legowo dengan menyandang status masih pengangguran. Sedih ketika harus menyaksikan teman-teman saya sudah kuliah tetapi saya belum. Sedih ketika mendengar teman-teman saya berbicara mengenai ipk mereka yang luar biasa hancurnya. Kegiatan-kegiatan mereka yang di luar nalar saya rasanya seru. Tetapi hal itu tak boleh berlarut dan membuat saya semakin tertekan. Di balik itu semua, saya masih bisa merasakan liburan bersama mereka. Ketika itu kami rekreasi berkeliling ibukota Jekardah. Kesepakatannya adalah tidak menggunakan kendaraan pribadi baik itu mobil ataupun motor. Semua wajib, kudu, mesti, dan harus naik busway. Pelopornya, Akhdan. Dia berdalih, “Liburan kali ini tuh bukan sekedar untuk jalan-jalan, buang-buang waktu, hamburin uang. Tapi, kita sekalian memperkenalkan betapa beautiful-nya Indonesia ini.” Katanya sih gitu, katanya.
Here we are!

Februari berlalu begitu cepat. Sampai akhirnya maret tiba. Bulan yang sangat saya tunggu-tunggu. Tepatnya 3 Maret, I am 18, Yeay! Ulang tahun kali ini spesial dan berbeda bagi saya. Bagaimana tidak, saya mendapatkan ucapan dan sedikit buah tangan dari fans-fans teman-teman setia saya. Semoga doa dan juga kebaikan kalian kembali lagi ke diri kalian masing-masing ya.

Finally 18, Yeay!

Masih di bulan maret yang ceria. Sebuah anugerah bagi saya dalam segala keterbatasan yang ada, bisa mengunjungi kota Haramain. Ibadah umrah tentu. Namun, saya terbang ke tanah suci itu juga dengan membawa harapan untuk bisa kuliah di salah satu Universitas terbaik disana, Universitas Islam Madinah. Ya, harapan ketika itu. Saya melaksanakan tes langsung di sana dan untuk hasilnya masih digantungin. Entahlah, mungkin gak lulus kali ya. Lewat kejadian itu akhirnya saya tau, oh ini rasanya digantungin?
Satu pekan berada di kota Mekkah, membuat saya begitu merasakan begitu adanya semangat berlomba-lomba dalam kebaikan di sana, begitu maqbul semua doa-doa yang terucap. Lima hari selanjutnya saya dan rombongan melanjutkan ibadah tersebut di kota Madinah. Hal yang begitu terasa di sini adalah semangat akan menuntut ilmu yang menggebu-gebu. Betapa beruntungnya saya bisa berkunjung ke kedua kota itu.



April dan Mei, saya lalui dengan penuh tangis haru. Setelah beberapa pekan harus dirawat di rumah sakit daerah Rawamangun. Tepat pada 6 Mei 2015, Nenek (Saya memanggilnya Ibu) menghembuskan nafas terakhirnya di usia ke-64. Tak ada rasa lagi selain diselimuti rasa sedih pilu. Kehilangan salah satu nenek terbaik yang pernah ada di hidup saya. Kehilangan salah satu nenek yang mengajarkan saya banyak hal. Rindu, Bu. Semoga tenang di alam sana ya, Bu.


Juni dan Juli, momen di mana saya diberi kesempatan kedua kalinya untuk bisa menyandang status ‘mahasiswa.’ Saya gunakan momen yang ada untuk nge-date  bareng. Bareng kamu buku maksudnya. Tes pada 9 Juni. Kemudian saya digantungkan lagi selama sebulan lamanya. Panitia SBMPTN, lo ga asik! Hehe. Alhasil, karena segala jerih payah saya dengan memanfaatkan waktu yang ada untuk nge-date tadi, saya berhasil lolos dalam seleksi tersebut. Bukan masalah meskipun hanya diterima pada pilihan ketiga. Karena pilihan pertamanya kan kamu, iya kamu (Loh?). Gembira bukan kepalang saya saat itu, Rasa-rasanya saya diberi kesempatan untuk menata ulang mimpi lagi.
Tibalah saya di bulan Agustus. Bulan penuh dengan THR, halal bi halal, makanan enak, dompet tebal. Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Agustus ini saya bisa dipertemukan lagi dengan teman-teman seperjuangan ketika di bangku SMA. Kenangan-kenangan masa sekolah seketika hadir lewat obrolan-obrolan cantik yang tak sengaja dilontarkan. Rasanya seperti mau kembali ke masa SMA.

One big family of Senhigh5 :)

Finally, masih di bulan yang sama saya menyandang status sebagai mahasiswa baru alias ‘maba.’ Menjadi seorang anak jurusan agribisnis itu, kamu menantu idaman! Haha. Merantau dari Jakarta ke Sumedang dengan membawa banyak harapan keluarga. Harus melewati fase hidup sebagai anak kostan yang serba ala-ala, ala kadarnya saja. Indomie lagi, indomie lagi. Ah, sudah biasa hehehe.

Udah anak agribisnis banget, belum?


Dunia perkuliahan dengan beraneka macam kegiatannya menyibukkan diri saya. Membuat waktu terus berputar terasa begitu cepatnya hingga sampailah saya di penghujung tahun 2015. Setelah melewati suka-duka, lika-liku, serba-serbi di semester awal kuliah ini, saya mengakhiri aktifitas kuliah dengan sebuah kuliah lapangan yang berkunjung ke perkebunan di Pengalengan, Bandung. Ketika itu saya dan teman-teman sekelas diajak untuk menjadi seorang ‘petani berdasi’ selama setengah hari.

AgriB(ur) on vacation.


Pada akhirnya, saya sangat bersyukur dengan apa yang telah dilewati pada tahun 2015 kemarin, karena mengajarkan saya begitu banyak hal tentang memaknai sebuah kehidupan. Pertama, hidup ini harus disyukuri mau bagaimana pun kondisinya. Selama kita mampu untuk bersyukur, niscaya kita akan mendapatkan lebih dari sekedar apa yang kita inginkan melainkan mendapatkan juga apa yang kita butuhkan. Kedua, jikalau ada pepatah lama yang berbunyi "di mana ada pertemuan, di situ pasti ada perpisahan." Bisa juga dapat kita artikan bahwa "semua yang bernyawa (permulaan) pasti akan mati (perpisahan)." Jadi, persiapkan sedini mungkin bagi diri kita untuk menghadapi perpisahan tersebut. Pelajaran memaknai hidup yang terakhir, Ketiga, sejatinya hidup adalah perjuangan. Menjumpai sebuah kegagalan bukan berarti harus membuat kita berhenti mencoba, bertekuk lutut dipojokan kamar, lalu meratapi nasib malang seorang diri, lalu update galau di sosial media, bukan. Tetapi dengan mengevaluasi lalu memperbaiki kesalahan yang ada. Bukankah proses tak akan berdusta pada hasilnya? 
Bagi saya, tahun 2015 adalah tahun perjuangan. Perjuangan untuk mewujudkan mimpi-mimpi lama yang telah dibuat. Kalau meminjam kalimatnya orang bijak, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.” Maka dalam konteks ini, tahun ini (2016) harus lebih baik daripada tahun kemarin (2015). Let’s make differences guys!




Durasi Baca: 3-4 Menit

Belum lama ini, Adele, salah satu penyanyi terkenal asal London ini merilis single terbarunya yang berjudul “Hello.” Jadi, saya beserta segala kerendahan hati meminjam kata tersebut untuk dijadikan judul dalam mengawali lahirnya blog ini sekaligus post pertama di tahun 2016.
“Hello world! This blog is a new part of my life.”
Itulah kalimat pertama yang terucap dalam hati saya saat blog ini terlahir. Tak terasa sudah sekitar hampir tiga tahun saya vakum dari dunia blog. Mungkin sebagian dari kamu akan ada yang bilang ‘baru juga’ tiga tahun atau bilang ‘sudah’ tiga tahun. Hmm, betapa relatifnya waktu. Hal yang pasti adalah begitu banyaknya ilmu nge-blog yang saya lewatkan dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini. Bagaimana tidak, sangat disayangkan ketika saya harus mempensiunkan blog lama saya yang dibangun sejak 2010 dan terbengkalai semenjak Februari 2013 silam.
Sejak 2013 tersebut, terbuatlah sebuah wacana dan terus menjadi wacana untuk membuat sebuah web personal yang saya kira terkesan terlalu banyak maunya. Jadilah web personal tersebut tidak terbit-terbit ke permukaan dunia maya hehehe. Hampir tiga tahun hidup saya terselimuti akan wacana itu. Oleh karena itu, di awal tahun ini saya berusaha memutuskan wacana itu dengan melahirkan sebuah web blog personal yang baru.
Blog ini lahir untuk saya persembahkan kepada tiga orang yang paling berpengaruh dan paling saya cintai. Pertama, sujudku pada Ibunda, Mami tersayang, Yuli Pertiwi. Wanita shalihah nan tangguh dalam menjalani kehidupan dan mendidik anak-anaknya. Hingga sampai saat ini, doa-doanya adalah senjata terbaik bagi saya dalam menjalani lika-liku hidup ini. Kedua, Mentor terbaik, Papi tersayang, Rezi Yunizar. Terima kasih atas dunia yang Papi ajarkan ke Aldi. Ketiga, Amelya Zahra Yulizar. Ah, kakak tau pasti kamu sayang kan sama kakak. Ohiya, di sekolah udah ada yang naksir kakak, belum? Hahaha.
Mungkin sebagian orang berpendapat kalau menulis itu merupakan sebuah kegiatan yang menjemukan. Apalagi ketika kita tidak tahu hal apa yang akan kita tulis, terasa seperti ada benang kusut dalam pikiran, macet ide, lalu shut down laptop dan gak jadi nulis hahaha. Permasalahan klise. Saya pun tak terbilang pandai dalam dunia tulis-menulis, tetapi saya suka menulis. Itulah kenapa blog personal ini terlahir dengan harapan bisa menjadi sebuah platform bagi saya untuk mengembangkan kemampuan menulis saya dalam berbagi suka maupun duka juga berbagi kebermanfaatan.
Sebelum post ini saya akhiri, perkenankan saya memaparkan sebuah alasan mengapa saya tertarik untuk bergabung dengan “Blogger Energy”. Sejatinya, setiap manusia adalah makhluk sosial. Membutuhkan sebuah hubungan atau interaksi dengan orang lain dan tak akan bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Menurut saya, komunitas itu merupakan salah satu komponen penting dalam mendukung kesuksesan sebuah kegiatan juga sebuah kata kunci yang memiliki daya ungkit tinggi guna membangun sebuah kesuksesan –dalam hal ini kesuksesan sebuah platform menulis. Oleh karena itu, saya memilih Blogger Energy sebagai salah satu sarana saya untuk menjemput kesuksesan dalam dunia blog.
Terakhir, saya berharap kepada para pembaca yang baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong bersedia untuk share dan comment pada tulisan ini guna mendukung keproduktifan saya dalam menulis post berikutnya hehe. Terima kasih!


Photobucket

Source: Google Images

Durasi Baca: 3-4 Menit

Sempurna sudah mentari duduki singgasananya. Menyinari alam semesta ini begitu terik, menyarukan. Sinarnya memantul pada telaga bening dengan menawarkan kilau keemasan, juga membuat mata elok. Secercah awan menemaninya dengan senyum sendiri. Desir angin berbisik bersama alunan berita langit membawa sepotong episode kehidupan.
Terlihat seribu gembel yang sedang berdansa ria di jalanan yang ditemani dengan simfoni nyanyian hati. Dengan tergopoh, menyusuri jalan, mengais bersama sampah, bau busuk karibnya. Mandi keringat, banting tulang merupakan hal lumrah yang mereka lakukan, meskipun hanya untuk bertahan hidup. Tidak bertahan lama, sebagian dari mereka terbuang dan menyisakan sebagian yang lain. Begitu mudah tersingkirkan.

Di pertigaan jalan sana, seorang gembel dengan pakaiannya yang lusuh, muka kusam, dan bau badan, sedang berusaha untuk menjumpai takdirnya. Ia bernama Lubit, gambaran sampah jalanan yang mengais derita. Di kala lampu berwarna merah, ia tempelkan wajahnya pada kilat kaca mobil sembari berkata: “Tuan, berikan hamba beberapa keping untuk makan”. Diabaikan, ia berpindah ke kaca mobil yang lain. Begitu selanjutnya, ketika lampu berwarna merah, ia bergelut ke jalanan, dan ketika lampu berwarna hijau, dengan tergesa ia menghindar dari lindasan roda-roda mobil penghantar maut itu.

Di pertigaan jalan yang lain, Hendar. Gembel yang terlepas dari takdirnya. Gembel yang hampir kehilangan arah. Bermodalkan botol plastik yang berisikan beras, ia dendangkan melodi indah dari lubuk hati terdalam. Mengharap simpati mereka.

Orang Pinggiran, Oh…

Di terik mentari…

Di jalan becek…

Menyanyi dan menari…

Srek srek,

Lagu merduku, teralun indah untukmu.

Di pengkolan sana, merupakan tempat kami bertukar keringat, bertukar rasa peluh.

“Hei, dapat berapa perak kau, Bit?”

“Tidak seperak pun, yang kudapat malah cacian-cacian yang menusuk hati. Sakit sekali hatiku ini”

“Ah kau ini, seperti anak kecil saja. Sudah berapa lama kau tinggal di jalanan? Sabarlah, asal kau tahu, hal-hal yang menyakitkanlah yang membuat kita semakin dewasa. Jika kau tidak sabar, itu tandanya kau menolak atas pendewasaan pada dirimu. Atau mungkin kau salah memaknainya? Berilah makna baru untuk hal itu, dengan begitu kau pasti akan terbiasa”

“Astaga, sejak kapan kau bijak seperti ini? Haha”

“Sial kau!”

“Tetapi, benar juga sih, Dar. Aku harus lebih sabar lagi ke depannya”

“Nah! Begitu dong…”

Mereka pun kembali ke dalam lingkaran dengan penuh asa. Kembali lagi merangkak, menjerit, berteriak, dan berputar-putar. Setelah kemudian rasa peluh itu datang kembali nanti, mereka merapat ke pinggiran lagi. Pulang.

Kala senja menyingsing, dan mentari mulai sirna. Senantiasa menghadirkan nuansa jingga di tepi barat. Jingga yang menyisakan isak tangis dalam hati. Hembusan angin yang menyelinapkan berjuta rasa dalam jiwa. Di senja yang teduh, seteduh tatapan mata seorang ayah pada keluarganya tercinta.

-x-X-x-

Sayup-sayup suara azan maghrib saling sahut-menyahut. Hanya sekejap, serdadu gamis putih menyerbu masjid-masjid setempat. Di bagian lain, orang-orang berbondong-bondong keluar dari pabrik untuk pulang setelah seharian membanting tulang. Bagian lainnya lagi, seorang bayi sedang menangis meminta manja dari bundanya. Tetapi disini, gembel-gembel itu membisu. Sunyi. Raganya berbaring, tetapi angan ingin sekali meraih mimpi. Mimpi yang masih menjadi bagian cerita di esok hari.

Langit-langitlah yang menjadi saksi bisu atas semua yang terjadi pada kehidupan yang fana ini. Akhirnya Lubit pun tiba di istananya. Hanya sebuah istana yang beratapkan langit, dan bersekatkan kardus-kardus bekas. Ia yang pulang dengan tangan hampa, mendapati istrinya yang sedang terlelap tidur, Nadia. Ia menangis seketika, menjeritlah hati ini. Jeritan yang penuh dengan penyesalan. Lalu ia berdoa pada Tuhan.

Wahai Tuhan,

Telah sampailah aku di malam-Mu.

Setelah usang kubertebaran di bumi kala siang-Mu.

Laksana angin yang menerpa embun, jatuh jernih terisap tanah.

Terasa letih diriku ini berjalan.

Berlapis debu tubuhku perlahan.

Pudarnya senja berikanku teguran.

Untuk  bersujud angankan ampunan.

Wahai Tuhan,

Tahukah kau apa yang sesungguhnya hari ini terjadi?

Lihatkah kau apa yang tubuh ini kerjai?

Sungguh amat terasa diri ini merugi.

Wahai Tuhan,

Aku belum dapat bahagiakan orang tercinta.

Aku belum sempat untuk bawakan mereka gembira.

Aku hanya mampu beri mereka potongan-potongan elegi.

Wahai Tuhan,

Atas kuasa-Mu ampuni siang kami tadi.

Mungkin tuhan tidak akan menjawab. Mungkin ia tidak membutuhkan jawaban atas itu. Sudah berulang kali ia berharap, hatinya menjerit. Namun, kata-kata itu bagaikan tidak memiliki makna bagi-Nya.

Lubit pun duduk di pelataran sandaran pohon jati yang mewangi, tempatnya menanam harapan-harapannya yang berharap itu akan terjadi. Sejenak bersandar, sekedar pelipur lara, sejenak. Akhirnya badannya tergolek lemah, bertikarkan debu halus yang melekat erat pada tanah. Hati kecilnya berkata: “Malam, izinkan aku terlelap sebentar. Aku berjanji akan berjumpa lagi dengan pagi. Ia ingin sekali menitip secarik pesan untukmu, tentang dilema hidup yang masih menjadi teka-teki misterius. Mencarimu, melaluiku”.

Pada malam itu, rembulan lupa untuk memberikan pelitanya. Desir angin pun enggan berbisik menyapa daun. Akar sunyi, menjalar dan berkelabat. Semesta seolah-olah tidak berputar pada malam itu.

Lihatlah! Di pertigaan jalan kelok itu, bocah perempuan cantik nan hijau bagaikan rerumputan di pegunungan yang gersang, masih setia menanti senyum tuan dan nyonya berbalas ramah. Malam yang kelam mengajarkannya untuk memberikan rona senyuman menggelitik.

Pinta-pinta bocah itu pada siapa saja yang iba kepadanya. Pada jalanan, ia menari dan juga bernyanyi menggoda hati. Berharap satu atau barangkali dua perak lebih.

Di relung malam, bocah itu tersenyum. Malaikat-malaikat penjaga menatapnya dari langit. Berbisik halus hingga terdengar sampai di lubuk hatinya: “Tidurlah, sayang, tidur. Biarkan mimpi indahmu bercerita lagi di esok hari”.

Berita langit telah bersua pada hari itu, terangkai istimewa dalam untaian cerita yang tercuri entah oleh siapa. Mengisahkan tentang aku, dia, dan mereka.