Success Is My Right (eps 02)

11.36 Awaldi Rahman 0 Comments


Selepas kenaikan kelas dua. Ayah dan Ibu memutuskan untuk pindah ke ibukota, Seol. Dengan harapan kehidupan mereka akan jauh lebih baik. Namun, setelah dua minggu tinggal disini, nasib orang tuanya tetaplah terpuruk, menjadi penjual sayur di jalanan.
Saat itu juga, aku memutuskan untuk lepas dari orang tua, dan bekerja menjadi buruh bangunan. Cukup sudah aku membuat mereka susah selama ini. Sudah saatnya aku berlaku dewasa, berpikir ke depan. Menyongsong masa depan yang cerah. Dan pada saat itu juga aku bercita-cita menjadi seorang pegawai.
Tahun pertamaku di SMA berjalan dengan lancar. Pada awal-awal tahun aku cenderung menyendiri dan menjauh dari anak-anak lain. Namun, pada pertengahan tahun aku sudah mulai bisa bergaul dengan yang lain. Begitu juga pada prestasi yang telah kuraih, salah satunya adalah juara satu karya tulis ilmiah mengenai cara kerja mesin pada sebuah transportasi. Prestasi yang cukup bergengsi di sekolahku. Prestasi itu kutorehkan sebagai penutup tahun ajaran.
Begitu juga dengan tahun kedua. Prestasi-prestasi lain dengan mudah kudapatkan. Aku selalu ditunjuk, dan berhasil meraih kemenangan itu dengan mudah setelah berusaha keras. Selain itu aku juga terpilih menjadi ketua OSIS sekaligus ketua kelas di sekolah. Mengemban amanah yang cukup banyak. Tidak mudah, tetapi kucoba jalani. Oleh sebab itu, aku menjadi murid kepercayaan para guru di sekolah.
Dan kini, ujian nasional SMA hanya tinggal tiga hari lagi. Seluruh pengorbanan atas waktu yang selama ini aku habiskan untuk menuntut ilmu, akan segera terbayar. Dan pengorbanan para guru-guruku yang pantang menyerah akan memberikan ilmu yang bermanfaat bagiku akan membuat kabar-kabar baik itu datang tentunya. Aku percaya itu.
“Man, pulang bareng yuk?!” Tiba-tiba ajak Lee salah satu sahabatku yang memecah lamunanku.
“Okedeh, ayo!!!” Balasku semangat.
Dengan cepat aku bergegas bangun. Lalu beranjak pulang meninggalkan sekolah bersama Lee. Seperti biasa, selepas pelajaran tambahan aku dan Lee selalu pulang bersama. Saling bertukar cerita selama di perjalanan, baik itu cerita sedih, senang, tentang rencana kuliah, masa depan, sampai masalah keluarga. Begitu akrab aku dengan Lee, begitu juga dengan keluarganya. Baik sekali kepadaku.
“Man, kamu ada rencana untuk kuliah tidak?” Tanya Lee membuka percakapan di perjalanan pulang ini.
“Ada siiih, tapi kamu juga mengertilah. Tahu. Bagaimana kondisi keuangan kedua orang tuaku. Sebelumnya maaf, bukannya aku bermaksud untuk sombong, Lee. Aku bisa melanjutkan sekolah hingga sekarang ini saja, itu karena aku mendapatkan beasiswa penuh. Entahlah, akan menjadi apa kelak, jikalau aku tidak mendapatkan beasiswa itu. Bisa saja aku akan menjadi penjual koran, pengemis mungkin, atau pengamen yang menjual suara indahnya demi mendapatkan beberapa suap nasi. Bisa saja kan?” Jawabku panjang lebar lalu balik bertanya.
“Iya juga siiiiih” Jawab Lee pendek.
“Kamu sendiri rencana kuliah dimana, Lee?”
“Rencananya, aku akan kuliah di eropa sana, Man. Prospek kerja Ayahku akan dipindahkan ke Berlin, Jerman. Dalam waktu dekat ini. Mungkin setelah ujian nasional besok. Mau tidak mau pasti aku akan ikut kesana. Kecil kemungkinan untuk menetap disini”
“Kamu beruntung sekali, Lee. Terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Bahkan bisa dibilang lebih. Nah, sedangkan aku?”
“Huuuuush!!! Jangan begitu kamu, Man. Bersyukurlah dengan keadaanmu yang sekarang. Bagaimanapun juga kedua orang tuamu itu telah bersusah payah mencari nafkah, hingga sampai saat ini, untuk mencukupi kebutuhanmu juga kan?”
“Iya juga siiih. Huh”
“Sudahlah, Man. Jalanilah hidup ini dengan santai. Hadapi saja rintangan yang ada dengan senyuman. Semua akan terlihat dan terasa lebih indah jika dibalas dengan senyuman bukan? Biarkanlah hal yang sudah terjadi berlalu bagai angin yang berhembus, dan sudah waktunya kita tatap masa depan yang cerah dengan penuh keyakinan. Kita tatap ujian nasional esok dengan penuh keyakinan, Man! Oke Pak Presiden?” Kata Lee disambung dengan canda kepada Kerman.
“Oke deh Pak Manajer!” Jawab Kerman sembari berjabat tangan sebagai tanda sepakat dengan Lee.
“Hahahaha” Kami tertawa bersama.
Tidak terasa kami berjalan sudah cukup jauh. Menara sekolah yang terbilang tinggi itu pun sudah tidak terlihat lagi. mungkin kami terlalu asik dalam pembicaraan selama diperjalanan pulang ini, sehingga benar-benar tidak terasa bahwa kami sudah setengah jalan.
“Oiya Lee, bagaimana nih persiapan untuk ujian nasionalmu? Kan tinggal beberapa hari lagi tuh” Tanya Kerman.
“Udah siap dong, Man. Hanya tinggal ikhtiarnya saja deh. Gimana dengan kamu sendiri?”
“Siap banget! Sudah tidak sabar lagi aku, Lee. Hahahaaa...” Jawab Kerman semangat.
“Wah...wah...hebat deh kamu, Man. Semoga saja kita mendapatkan hasil yang terbaik yah. Supaya mudah untuk kuliahnyaaa...”
“Benar banget, Lee. Semoga saja begitu”
Tanpa disadari, doa-doa mereka tergantung di birunya langit, tergantung bersama dengan doa-doa berjuta jiwa lainnya. Dan tanpa mereka sadari juga, seluruh alam semesta beserta penciptanya sepakat untuk mengabulkan permintaan mereka berdua.
Tertiba saja angin berhembus kencang. Membuat pepohonan dan rerumputan bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri. Dan tertiba saja langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi gelap. Pertanda hujan akan turun dalam waktu dekat.
“Eh Man, sepertinya hujan akan turun nih! Gimana kalau kita lari saja? Daripada kita kehujanan nantinya, jatuh sakit, dan tidak bisa ikut ujian nasional, ya gak?” Kata Lee memberi saran kepada Kerman.
“Ayo deh, Ayo Lee! Haha” Balas Kerman lalu berlari duluan meninggalkan Lee di belakang.
“Waah curang kamu, Man!” Gerutu Lee lalu berlari menyusul Kerman di depan.
“Hahahaha” Kerman menertawakan Lee.
Dan akhirnya mereka berpisah di pertigaan jalan. Kerman tetap berlari lurus, sedangkan Lee berlari belok ke arah kanan. Beruntunglah mereka, hujan baru turun tepat saat mereka menginjakkan kaki di teras rumah mereka masing-masing, jadi mereka tidak kebasahan sedikit pun. Selamat.
Begitulah persahabatan Kerman dan Lee. Saling menghiasi satu sama lain, saling melengkapi, dan saling menghargai. Itulah yang membuat hidup mereka tidak monoton, membuat hidup mereka lebih berwarna, dan menjadi lebih indah lagi. Bagi mereka, persahabatan itu dapat melipat gandakan kebahagiaan dan mengurangi kesedihan di antara mereka berdua. Dan seharusnya persahabatan memanglah begitu.
*~*~*~*~*~*~*~*~*

0 comments: