Baca Buku Yuk Biar Menawan!
Durasi
Baca: 10-10 Menit
Assalamualaikum
and Hello people!
Mungkin dengan
mengawali tulisan kali ini dengan sebuah pertanyaan akan menjadi jawaban
mengapa tulisan ini terlahir. Pertanyaannya, menurut kalian apa definisi dari ‘menawan’?
Apakah dengan memiliki tampang ganteng dan cantik jelita? Apakah harus
berpenampilan elok bak seorang pangeran? Atau, memiliki rona senyum indah ala
Raisa?
Memang, anggapan itu enggak
ada salahnya apabila hal-hal tersebut yang menjadi parameter sebuah penilaian
terhadap menawan atau tidaknya seseorang. Tetapi, pada tulisan kali ini saya ingin
mengulas lebih dalam lagi yang lebih menawan daripada tampang, tampilan, dan
senyuman.
Sebutlah ia buku.
Nah, berikut ini ada
lima manfaat baca buku yang dikemukakan oleh Raphael Lysander.
1.
Membaca dan Kesehatan.
Ternyata,
membaca hanya dalam kurun waktu enam menit pertama saja itu sudah memiliki
dampak yang baik bagi kesehatan tubuh kita, seperti membuat detak jantung kita bekerja
normal, meregangkan otot-otot yang tegang, menenangkan pikiran, serta
mengurangi rasa stress yang melekat saat itu. Selain itu, dengan membaca buku
pun membuat kita lebih sehat 54 persen berbanding 44 persen daripada mereka
yang enggak gemar membaca buku.
2.
Membaca dan Otak.
Apa
kaitannya membaca dengan kemampuan otak kita? Banyak sekali kaitannya, seperti
otak akan menyimpan lebih banyak lagi kosakata baru yang menjadikan
perbendaharaan kata kita semakin banyak, stimulan memori yang efektif,
kemampuan akan analisis dan fokus kita terhadap sesuatu meningkat, kemampuan
komunikasi yang lebih baik, serta risiko demensia lebih rendah.
Nah, demensia
atau yang lebih dikenal sebagai alzheimer ini dapat menyebabkan berkurangnya
kemampuan otak kita dalam berpikir, mengingat, juga mengkoordinasikan berbagai
macam aktivitas. Duh, saya sih enggak mau deh mengidap alzheimer, kalian juga
jangan sampai deh ya. Masih enggak mau baca buku? Eits, masih ada
manfaat selanjutnya nih. Lanjut yuk!
3.
Membaca dan Kesuksesan.
Berdasarkan
studi pustakanya Raphael Lysander ini, orang yang suka baca buku itu lebih
melek huruf sehingga besar kemungkinan mereka akan dipekerjakan sekaligus
mendapatkan upah yang lebih tinggi.
Tentu
saja buku bisa menjadi guidebook buat kita dalam banyak hal. Pernah
membaca buku Studentpreneur Guidebook-nya Arry Rahmawan yang mengupas
bagaimana cara menjadi mahasiswa sekaligus pengusaha? Atau pernah baca novel
Aku, Kau, dan Sepucuk Angpau Merah-nya Tere Liye yang di sana terdapat Borno sebagai
tokoh utama sedang belajar tentang mengemudikan sepit lewat sebuah buku guidebook
mesin? Saya sih pernah, dong! Suka banget sama kedua buku itu. Rekomendasi
untuk dibaca deh!
4.
Membaca dan Anak-anak.
Dalam
dunia seorang anak, membaca tentu dapat mempengaruhi wawasannya secara
signifikan seperti membentuk kepribadiannya, menemukan identitas budayanya, meningkatkan
kepekaan anak terhadap seni dan keindahan hingga menjadikan salah satu cara
efektif untuk memanfaatkan perubahan sosial di sekitar.
5.
Membaca dan Lainnya.
Selain
keempat manfaat yang telah dipaparkan tadi, memiliki kegemaran membaca ternyata
juga berdampak pada hal lainnya seperti kita menjadi lebih berempati terhadap
sesama. Dengan begitu, mudah bagi kita untuk memahami perasaan serta pikiran
orang lain.
Tentu masih banyak
sederet manfaat yang bisa dipetik dari membaca buku. Gimana? Masih mikir-mikir
untuk mau baca buku? Atau jangan-jangan kita sudah menjadi bagian dari mereka
yang candu akan buku? Berikut ini ada sedikitnya lima tanda yang menjadi
indikasi bahwa kita seorang pecandu buku atau bukan. Mari kita cek. Markicek!
1.
Semakin tebal, semakin bagus.
Tanda
yang pertama adalah jika sebuah buku semakin tebal wujudnya, maka sempurna
sudah buku tersebut buat kita jadi melting ingin segera memilikinya dan
ingin cepat-cepat bisa menyelesaikannya. Biasanya, tebal-tebal gini mah idaman
para kaum wanita nih, tebal dompetnya maksudnya.
 |
Semakin tebal, semakin bagus. |
2.
Buku yang jadi juaranya.
Pada
zaman sekarang ini, seringkali kita dikejutkan dengan beberapa hal heboh yang
menggemparkan media massa dan dunia maya. Mau lagi heboh booming film
ini, heboh menariknya game itu, heboh kasus si anu. Juaranya, tetap buku
dong pastinya.
 |
Buku yang jadi juaranya. |
3.
Rasanya bak kehilangan seorang kekasih
ketika sudah selesai baca sebuah buku.
Mula-mula
jatuh cinta sama cover bukunya. Langsung dibeli. Pas dibaca, eh jatuh cinta
sama isinya. Pertengahan buku, masih aman. Udah mau akhir-akhir, mulai panik.
Udah habis halamannya, sedih deh. Padahal ceritanya lagi klimaks-klimaksnya. Ibarat
menjalin hubungan dengan kekasih, lagi sayang-sayangnya, eh diputusin. Pasti
sedih kan ya. Sekian.
 |
Rasanya itu seperti kehilangan kekasih. Hiks. |
4.
Membawa amunisi ketika liburan.
Musim
liburan pasti salah satu hal yang sangat dinanti-nanti nih bagi semua orang.
Ketika sudah tiba waktu liburan, tak peduli akan berlibur kemana, berapa lama,
dan sama siapa. Amunisi yang satu ini wajib kudu mesti dibawa bagi
pecandu buku. Eits, amunisi yang
dibawa bukan bom kok, santai.
 |
Amunisi liburan panjang. |
5.
Terlelap tidur bersamanya.
Sekuat
apapun mata memaksakan untuk membaca, kalau rasa kantuk lebih kuat menyerang
pasti akan berujung pada ketiduran. Bobo cantik kalau kekiniannya. Bedanya,
bobo cantiknya pecandu buku itu masih sambil menggenggam buku.
 |
Lagi bobo cantik ceritanya. |
Dari
lima tanda-tanda tadi, ada yang merasa nyerempet di salah satu poinnya kah? Atau
malah di setiap poinnya merasa? Kalau begitu, selamat kamu seorang book
addict yang telah lama dicari! Jadi, kapan aku bisa ke rumah? (loh?)
Lima
manfaat baca buku, udah. Lima tanda-tanda pecandu buku, udah. Apa selanjutnya? Okay,
berikut ini adalah lima jawaban untuk-mu, Stiletto Book.
1.
Kapan mulai suka baca?
Sejak
kecil saya sudah ditanami minat baca oleh Papi, seorang mentor terbaik dalam
hidup saya. Biasanya, kalau mau pergi ke mall bareng sekeluarga, saya dan Papi
pasti nongkrongnya di toko buku sedangkan adik dan Mami saya asik berbelanja
bulanan. Mungkin kebiasaan saya dalam membaca buku ini turun-temurun dari Papi
yang suka koleksi beraneka ragam buku bacaan. Omong-omong soal koleksi, saya
dan Papi memliki tempat favorit untuk menyimpan buku-buku. Tempat itu dinamakan
“Pojok Buku.” Ya, meskipun hanya sekadar rak sederhana tapi lumayanlah untuk menyimpan
sekaligus menjaga kelayakan buku-buku yang ada.
2.
Apa genre buku yang biasa dibaca?
Rasanya,
saya tidak begitu terlalu pilih-pilih dalam membaca buku. Saya setuju sekali
dengan pepatah yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Karena membaca itu
sendiri adalah ruang imajinasi yang dibagikan oleh penulis kepada kita. Buku
yang dengan berbagai macam genrenya memiliki cara unik tersendiri untuk
memberikan pengalaman imajinatif kepada pembacanya, baik dalam bentuk penjelajahannya
hingga pengetahuan baru yang akan didapat. Mulai dari buku bertajuk ‘how to’,
pengembangan diri, novel teenlit, ensiklopedia, agama, romance hingga
komedi, saya yakin pasti ada pelajaran tersirat yang disampaikan secara tidak
langsung oleh penulis.
3.
Berapa budgetmu dalam sebulan untuk
membeli buku?
Berbicara
mengenai budget sepertinya saya tak memiliki nominal tetap per bulannya. Kalau
ada rezeki berlebih hasil dari sisihan uang jajan, saya pergunakan untuk
membeli buku. Kalau tidak ada, meminjam buku teman mungkin alternatif yang
tepat. Kenapa tidak? Terlepas dari beli atau pinjam, esensi dari sebuah buku itu
tetap ilmunya, bukan?
Ohiya,
ada yang sudah baca buku Blogging: Have Fun and Get The Money-nya Mbak
Carolina Ratri yang diterbitkan oleh Stiletto Book? Kalau saya sih, udah dong! Bermanfaat
sekali kiat-kiat yang ditawarkan dalam urusan mengurus blog oleh Mbak Carolina
ini.
 |
Saya bersama buku Blogging: Have Fun and Get The Money dan Pojok Buku. |
4.
Kenapa minat baca masyarakat Indonesia
terbilang rendah?
Memang,
survei dari UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia berada
pada urutan 38 dari 39 negara yang paling rendah di kancah ASEAN. Sungguh
ironis ya, tahu akan fakta tersebut. Itupun pembacanya kaum wanita kebanyakan.
Kalau di Indonesia, kini ada Stiletto Book sebagai Penerbit Buku Perempuan yang
telah berusia lima tahun. Harapannya, lahir juga penerbit bagi pria atau bahkan
penerbit umum lainnya.
Pernah
nonton Kick Andy? Suatu kesempatan, Andy F Noya, selaku pembawa acaranya pernah
angkat bicara mengenai rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Ia
menjelaskan semua itu karena terbatasnya jangkauan yang bisa mendongkrak minat
mereka terhadap baca. Akses buku-buku berkualitas yang terbilang cukup mahal
maupun akses buku di sekolah. Terlebih lagi bagi mereka yang hidup di daerah
yang jauh dari kota sehingga menimbulkan dampak negatif akan minat baca pada
masyarakat.
 |
Beberapa orang lebih memilih baca di tempat daripada harus membeli.
Tampak wajah disamarkan, takut ada yang naksir. |
Suatu
kesempatan saya pernah berdiskusi dengan salah seorang teman mengenai rendahnya
minat baca. Menurut kami, sebenarnya enggak sepenuhnya juga bisa dibilang
rendah akan minat baca. Perkembangan zaman menuntut teknologi berkembang dengan
begitu pesatnya sehingga kita hidup menjadi lebih kekinian. Begitu juga dengan
dunia baca-membaca. Merasakan enggak, kalau kita mengalami transformasi
platform baca menjadi ke e-book? Nah, bisa jadi hal itulah yang seolah-olah mengurangi
minat baca buku di masyarakat. Ya, meskipun pendapat itu terlahir dari obrolan
kecil kami, tapi berbeda pendapat itu tidak dilarang, bukan? Hehe.
5.
Bagaimana saranmu untuk pemerintah?
Sejujurnya,
saya pribadi kurang tahu betul dalam perihal minat baca ini menjadi prioritas
nomor berapa bagi pemerintah, utama atau ditempatkan pada urutan kesekian.
Tetapi, sebagai mahasiswa yang merupakan salah satu elemen dari masyarakat,
rasanya saya juga berhak untuk mengemukakan pendapat sekaligus saran saya
terhadap pemerintah.
Sejatinya,
minat itu tidak terlahir bersamaan dengan raga kita, tetapi tumbuh kembang bersamaan
dengan bertambah usianya juga faktor lingkungan setempat.
“Gue
kan gak hobi baca.”
“Ogah
deh, tebel banget itu bukunya.”
“Ga
usah maksa juga kali kalo ga minat.”
Mungkin
statement seperti itu banyak kita dengar dari beberapa teman sejawat. Memang
tak ada salahnya mereka enggan untuk membaca dan tidak bisa seenaknya memaksa
mereka juga. Tetapi, apakah pernah kalian membaca kalimat ini, “Semakin tinggi
minat baca seseorang, ia telah turut membuat peradaban menjadi lebih maju.”
Pernah? Ya, minat baca itu juga berbicara mengenai kepribadian bangsa Indonesia.
Tentu suatu bangsa bisa dikatakan hebat hanya dilihat dari minat bacanya.
Bagaimana mungkin negara ini maju apabila masyarakatnya lebih suka
bermalas-malasan? Nahloh.
Menurut
saya, di sini pemerintah memiliki peran yang cukup besar tentang peningkatan
minat baca masyarakat. Secara pemerintah memiliki kekuatan dalam support bentuk
materil, maka dengan memasok buku lalu didistribusikan ke seluruh perpustakaan
yang ada di Indonesia merupakan salah satu cara efektif untuk meningkatkan
animo masyarakat terhadap membaca. Selain itu, memberikan apresiasi kepada
orang-orang yang berkecimpung di dunia kepustakaan dan dunia penulisan juga
perlu guna memberikan dukungan secara tidak langsung agar minat baca ini terus
berkembang dan tetap hidup.
Memang
tak hanya pemerintah yang punya peran, setiap pribadi kita pun punya porsi
dalam memenuhi hak dan kewajiban untuk berpartisipasi secara tidak langsung.
Misalnya, peran orang tua buat menanamkan gemar baca pada anaknya –seperti yang
dilakukan Papi saya. Begitu juga dengan pelajar, bisa ikut berkontribusi untuk
mempengaruhi lingkungan di sekitarnya seperti mengadakan event bedah buku atau
membangun sebuah komunitas baca.
Pada
akhirnya, membaca adalah salah satu kunci pembuka segala ilmu. “Semakin banyak
buku yang dibaca, semakin banyak hal yang dipelajari, semakin sadarlah bahwa
ilmu yang kita miliki ini sangatlah sedikit.” Happy long-life learning by
reading! Baca buku yuk biar menawan! J
-0-0-0-
Muhammad Awaldi Rahman
Facebook: Awaldi Rahman
Twitter: @awaldi
Instagram: awaldirahman
Email: muhammadawaldirahman@gmail.com
88 comments: